Isaac dan Petualangan di Lautan Ajaib
Isaac si anak nelayan membantu Nikto si Cumi kecil dari serangan Hiu Jahat Barstom dan membuat nelayan kembali bahagia dengan kembalinya ikan-ikan
CERPEN


Di sebuah desa nelayan yang kecil di pinggir pantai, hiduplah seorang anak bernama Isaac. Setiap pagi, ia terbangun oleh suara ombak yang memecah di batu-batu karang dan burung camar yang berteriak di langit. Rumah Isaac sederhana, terbuat dari kayu, dengan jendela yang menghadap langsung ke laut biru.
Ayah Isaac adalah seorang nelayan yang tangguh. Biasanya, sebelum matahari terbit, Ayah sudah mendorong perahu ke laut sambil bersenandung kecil. Namun beberapa minggu terakhir, Ayah sakit. Tubuhnya lemah, batuknya belum sembuh, dan ia tidak boleh terkena angin laut yang dingin.
Suatu pagi, Isaac duduk di tepi ranjang ayahnya.
“Ayah… apa Ayah sudah boleh melaut?” tanya Isaac pelan.
Ayah menggeleng sambil tersenyum tipis. “Belum, Nak. Ayah masih harus istirahat. Tapi… rumah kita butuh ikan. Kita butuh makan.”
Isaac menunduk. Di dapur, persediaan ikan sudah hampir habis. Ibu sudah mengolah sisa ikan dengan cara macam-macam, tapi tetap saja, tanpa tangkapan baru, mereka akan kehabisan makanan.
“Ayah…” kata Isaac lagi, kali ini lebih pelan, “bagaimana kalau… aku yang pergi melaut?”
Ayah menatap Isaac lama. “Laut itu tidak mudah, Nak. Tapi kamu sudah sering ikut Ayah. Kamu tahu cara mendayung, tahu cara menebar jala. Kalau kamu hati-hati dan tidak pergi terlalu jauh…” Ayah berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Ayah percaya kamu bisa mencoba.”
Mata Isaac berbinar. Ia mengangguk mantap. “Aku akan hati-hati, Yah. Aku akan cari ikan sebanyak mungkin!”
Hari itu, Isaac mendorong perahu kecil keluarga ke air. Langit cerah, angin berhembus lembut. Ibu berdiri di tepi pantai, memegang selendangnya.
“Isaac! Jangan terlalu jauh, ya!” seru Ibu.
“Iya, Bu!” jawab Isaac sambil melambaikan tangan.
Ia naik ke perahu, mengambil dayung, dan mulai mengayuh pelan. Ombak kecil menggoyang perahu, tapi Isaac sudah terbiasa. Ia ingat bagaimana Ayah mengajarinya menjaga keseimbangan.
“Pandangan ke depan, jangan panik kalau perahu goyang,” suara Ayah seolah terngiang di telinganya.
Isaac menebarkan jala di tempat yang biasa Ayah menebar. Ia menunggu. Matahari naik sedikit demi sedikit. Waktu berlalu.
Ketika ia menarik jala… hanya ada beberapa ikan kecil yang tersangkut.
“Hanya ini?” keluhnya kecewa.
Ia mencoba lagi di tempat lain. Menebar jala, menunggu, menarik… kosong. Ia menghela napas panjang.
Hari itu ia pulang dengan hasil sangat sedikit. Ibu tetap tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, Nak. Terima kasih sudah berusaha.”
Tapi di dalam hati, Isaac merasa gagal.
Hari berikutnya, ia mencoba lagi. Ia bangun lebih pagi, mendayung lebih jauh sedikit, menebar jala lebih sering. Namun hasilnya tetap hampir sama. Kadang hanya dua ikan, kadang tidak ada sama sekali.
Setiap malam, Isaac duduk di tangga rumah menatap laut yang gelap.
“Kenapa ikannya tidak mau datang?” gumamnya. “Apa aku tidak cukup hebat?”
Suatu hari, setelah beberapa kali mencoba dan gagal, Isaac memutuskan pergi sedikit lebih pagi dari biasanya. Langit masih berwarna ungu lembut. Ia mendayung perahunya lebih jauh, sampai desa terlihat kecil di kejauhan.
Ia menebarkan jala, menunggu, dan lagi-lagi… hasilnya sedikit.
Rasa kesal dan sedih bercampur di dadanya. Ia menatap laut yang luas sambil menggenggam jala erat-erat. Air mata hampir jatuh.
Tiba-tiba ia berdiri di perahu dan berteriak keras, “Laut! Tolong aku! Keluargaku butuh makan! Aku harus dapat ikan!”
Suara teriakannya hilang diterpa angin. Hanya ombak yang menjawab dengan suara byur… byur…
Isaac duduk lagi, menunduk. “Mungkin laut tidak peduli padaku…” pikirnya.
Namun beberapa detik kemudian, air di dekat perahunya bergerak aneh. Seperti ada sesuatu yang mendekat dari bawah. Isaac terlonjak. “Apa itu?”
Dari permukaan air, muncul seekor cumi kecil berwarna ungu kebiruan. Matanya bulat dan ramah. Cumi itu melambaikan salah satu tentakelnya.
“Halo!” katanya.
Isaac melompat kaget ke belakang. “K-kamu bicara?!”
“Tentu saja,” jawab cumi itu santai. “Namaku Nikko. Aku dari kerajaan laut di bawah sana.”
Isaac mengucek matanya. “Aku… tidak sedang bermimpi, kan?”
Nikko tertawa kecil. “Tidak. Kamu tadi berteriak minta tolong pada laut. Laut mendengar. Kadang, kami juga bisa mendengar isi hati manusia yang sungguh-sungguh.”
Isaac menelan ludah. “Aku… keluargaku butuh ikan. Ayahku sakit. Aku sudah mencoba berkali-kali, tapi ikan di sini sangat sedikit.”
Nikko mengangguk. “Kami tahu. Banyak ikan pindah ke laut sebelah.”
“Kenapa?” tanya Isaac cepat.
“Karena seekor hiu besar bernama Brastom,” jawab Nikko. “Ia suka berkeliling, mengejutkan ikan, mengejar mereka hanya untuk bermain-main. Ikan-ikan ketakutan dan lari ke tempat lain.”
Isaac terdiam. “Jadi… itu sebabnya?”
Nikko mendekat ke perahu. “Kerajaan laut kami juga terganggu. Brastom sering lewat, membuat rumah kami porak-poranda. Kalau kamu mau membantu kami mengusirnya, kami akan membantumu. Kami bisa menggiring ikan-ikan kembali ke laut desamu. Jala yang kamu tebar tidak akan pernah kosong lagi.”
Isaac memandang laut yang tenang. Hatinya berdebar. “Tapi… bagaimana aku membantumu? Aku tidak bisa bernafas di dalam air.”
Nikko mengangkat salah satu tentakelnya. “Aku punya sesuatu.”
Dari kantung kecil di samping tubuhnya, Nikko mengeluarkan sebuah pil kecil yang berwarna biru muda.
“Inilah pil insang. Kalau kamu memakannya,” kata Nikko, “kamu akan bisa bernafas di dalam air. Insang kecil akan tumbuh di lehermu. Tapi ingat, efeknya hanya tiga jam. Setelah itu, kamu harus kembali ke permukaan.”
“Tiga jam?” ulang Isaac.
“Ya. Jadi kita harus bergerak cepat. Kita akan membuat rencana untuk menjebak Brastom. Setelah itu, kamu bisa pulang dengan selamat.”
Isaac menatap pil itu, lalu menatap kembali ke arah desa yang jauh di belakangnya. Ia teringat Ayah yang terbaring sakit, Ibu yang berusaha tersenyum meski cemas, dan perutnya yang kadang keroncongan.
Ia menggenggam pil itu erat-erat. “Baik, Nikko. Aku mau membantu.”
Nikko tersenyum lega. “Terima kasih, Isaac. Kamu pemberani.”
Isaac menelan pil itu pelan-pelan. Rasanya aneh, seperti minum air yang agak asin.
Beberapa detik kemudian, lehernya terasa geli. Ia meraba lehernya dan merasakan sesuatu yang baru—garis-garis tipis seperti insang.
“Kamu sekarang bisa menyelam,” kata Nikko. “Tarik napas dalam, lalu terjun. Aku akan memandu.”
Isaac berdiri di tepi perahu, menarik napas panjang, dan melompat ke laut.
Byuuur!
Air dingin menyelimuti tubuhnya. Ia refleks menahan napas, tapi kemudian teringat. Ia mencoba menghirup sedikit air lewat leher. Ternyata… ia bisa bernafas!
“Mengeerikan tapi… luar biasa,” pikirnya.
Di bawah permukaan, dunia tampak berbeda. Cahaya matahari masuk sebagai garis-garis lembut. Ada ikan-ikan kecil berwarna-warni berenang di antara rumput laut hijau. Karang-karang tumbuh dengan bentuk aneh dan indah. Bintang laut menempel di batu. Udang-udang kecil bersembunyi di celah.
“Isaac, sini!” panggil Nikko sambil berenang cepat.
Isaac mengayuh kaki dan tangannya, mencoba menyesuaikan diri dengan gerakan di air. Lama-lama, ia mulai bisa berenang lebih seimbang.
Mereka sampai di sebuah area luas dengan banyak rumah kecil dari batu dan karang—itulah kerajaan laut.
Namun keadaan di sana berantakan. Beberapa rumah terbalik, pasir berhamburan, dan banyak makhluk laut tampak cemas. Seekor ikan badut kecil bersembunyi di balik anemon, seekor kepiting menata kembali cangkang di depan rumahnya.
“Ini ulah Brastom?” tanya Isaac.
“Ya,” jawab Nikko. “Setiap kali ia lewat, ia mengejar ikan-ikan hanya karena bosan. Ia menabrak apa saja yang ada di depannya.”
Seorang kura-kura tua berenang mendekat. “Nikko, ini temanmu yang manusia itu?”
“Iya, Paman,” jawab Nikko. “Namanya Isaac. Dia mau membantu kita melawan Brastom.”
Kura-kura tua menatap Isaac dengan mata bijak. “Kami tidak ingin membunuhnya, Nak. Kami hanya ingin dia berhenti mengganggu. Kalau kamu bisa membantunya mengerti, kami akan sangat berterima kasih.”
Isaac mengangguk. “Kami juga tidak suka melukai siapa pun. Tapi kami harus menghentikannya.”
Mereka mulai merencanakan sesuatu. Nikko mengajak beberapa kura-kura dan ikan besar lain. Mereka akan membentangkan jala besar di jalur yang biasa dilalui Brastom saat mengejar ikan. Sebagai umpan, beberapa ikan akan berenang di depan untuk memancingnya.
“Setelah dia terjebak, apa yang akan kita lakukan?” tanya Isaac.
“Kita akan bicara dengannya,” kata Nikko. “Kamu, sebagai manusia yang berani, akan menyampaikan apa yang kami rasakan.”
Isaac menelan ludah. “Bicara… dengan hiu besar?”
Nikko tersenyum. “Kamu tidak sendiri. Kami akan ada di sekelilingmu.”
Isaac mengangguk pelan. “Baik.”
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Nikko, berapa lama lagi efek pil ini bertahan?”
Nikko melirik sebuah batu berlumut seperti jam. “Kita sudah memakai hampir satu jam. Masih ada dua jam lagi. Kita harus cepat.”
Mereka bergerak ke area yang sering dilewati Brastom. Kura-kura-kura-kura besar membawa jala nelayan yang pernah tercecer di dasar laut. Mereka membentangkannya lebar-lebar di antara dua batu karang besar.
Beberapa ikan yang berani—ikan tuna, beberapa ikan kecil, dan Nikko sendiri—siap menjadi umpan. Isaac bersembunyi di belakang karang bersama sebagian makhluk laut.
“Kalau dia datang, jangan lari sendiri-sendiri,” pesan kura-kura tua. “Ingat, kita punya rencana.”
Tak lama kemudian, terdengar suara bergetar di air.
Dum… dum… dum…
Itu adalah suara sesuatu yang besar sedang mendekat. Pasir di dasar laut bergetar halus.
“Dia datang…” bisik Nikko.
Dari kejauhan, terlihat bayangan gelap besar bergerak cepat. Seekor hiu besar, kelabu, dengan mata tajam dan gigi tajam, berenang ke arah mereka. Itulah Brastom.
Ia melihat ikan-ikan yang berenang terburu-buru ke satu arah.
“Wah, seru! Ayo kejar!” pikir Brastom, tanpa menyadari jebakan.
Ia mempercepat gerakan siripnya, mengejar ikan-ikan itu. Ikan-ikan berbelok tajam, melintas tepat di depan jala.
Brastom yang asyik mengejar tiba-tiba…
GUUUBRAAAKK!
Ia masuk ke jala dan tersangkut. Jala melilit tubuh besarnya. Ia berputar panik, tapi semakin bergerak, semakin erat jala menjeratnya.
“Apa ini?! Lepaskan aku!” teriak Brastom.
Isaac keluar dari balik karang, diikuti Nikko dan kura-kura-kura-kura lainnya. Mereka mengelilingi Brastom dari jarak aman.
“Halo, Brastom,” kata Isaac dengan suara lantang meski hatinya berdebar. “Kami ingin bicara.”
“Siapa kamu? Manusia?! Apa yang kamu lakukan di sini?” geram Brastom.
“Namaku Isaac. Aku datang dari desa nelayan di atas sana,” jawab Isaac. “Aku datang karena laut di desaku sekarang sepi ikan. Ternyata, ikan-ikan lari karena kamu suka menakut-nakuti mereka.”
Brastom mendengus. “Aku cuma bermain! Aku tidak memakan mereka semua. Aku hanya suka mengejar. Itu menyenangkan!”
“Tapi tidak menyenangkan bagi mereka,” sahut Nikko. “Setiap kali kamu lewat, rumah kami terguncang. Makanan kami hilang. Anak-anak ikan tidak berani keluar.”
“Kami harus bersembunyi setiap saat,” tambah seekor ikan kecil. “Kami tidak bisa hidup tenang.”
Brastom terdiam. Ia tidak pernah mendengarkan keluhan mereka sebelumnya. Ia mengira semua hanya permainan.
“Kamu juga membuat manusia susah,” lanjut Isaac. “Ayahku sakit dan tidak bisa melaut. Aku mencoba menggantikan Ayah. Tapi setiap hari aku pulang hampir tanpa ikan. Kalau ini terus terjadi, kami tidak punya makanan.”
Brastom menatap Isaac, lalu memandang sekeliling. Semua mata tertuju padanya. Mata ketakutan, marah, sedih, lelah.
“Aku…” kata Brastom pelan, “aku tidak tahu kalian merasa separah itu.”
“Kami tidak ingin menyakiti kamu,” kata kura-kura tua. “Makanya kami jebak kamu seperti ini. Supaya kamu berhenti dan mau mendengarkan.”
Isaac mendekat sedikit. “Brastom, kalau kamu berjanji tidak akan mengejar ikan sembarangan lagi, tidak akan merusak rumah mereka, dan tidak akan mengusir ikan dari laut kami, kami akan melepaskanmu.”
Brastom menunduk. Air di sekelilingnya bergetar pelan karena tubuhnya yang besar.
“Aku…” katanya pelan, “aku juga merasa kesepian. Aku hanya bermain, tapi aku tidak sadar aku menyakiti semua. Kalau kalian mau jadi temanku… aku berjanji akan berubah.”
Nikko tersenyum. “Teman tidak menakut-nakuti teman sampai mereka tidak punya rumah.”
Brastom mengangguk. “Baik. Aku janji. Aku akan menjaga laut ini, bukan lagi mengganggu.”
Isaac melirik kura-kura tua. “Bagaimana, Paman?”
Kura-kura tua mengangguk. “Kita beri dia kesempatan.”
Mereka bersama-sama menarik jala perlahan, melepaskan Brastom. Hiu besar itu menggerak-gerakkan tubuhnya, merasakan kebebasan lagi.
“Kamu benar-benar janji?” tanya Isaac.
“Ya,” jawab Brastom. “Mulai sekarang, kalau ingin bermain, aku akan ajak kalian dengan cara yang tidak merusak. Dan aku akan membantu menjaga agar ikan-ikan kembali aman di laut ini.”
Nikko tertawa lega. “Sepakat!”
Setelah itu, Nikko dan teman-temannya menggiring kawanan ikan ke arah laut dekat desa Isaac. Ikan-ikan yang dulu takut mulai kembali. Mereka berenang ramai, membuat air berkilau seperti perak dari bawah.
Isaac merasakan lehernya sedikit aneh. Ia menyentuh insangnya.
“Nikko,” katanya, “aku rasa waktuku hampir habis. Efek pilnya akan segera hilang.”
Nikko mengangguk. “Kamu harus kembali ke permukaan sekarang.”
“Kamu akan baik-baik saja tanpa aku?” tanya Isaac.
Nikko tertawa. “Sekarang kami punya Brastom yang baru—penjaga laut, bukan pengganggu. Dan kami punya teman manusia di atas sana.”
Isaac tersenyum. “Kalau begitu, sampai jumpa, Nikko.”
“Sampai jumpa, Isaac!” sahut Nikko dan makhluk laut lainnya.
Isaac berenang ke atas. Cahaya matahari makin terang. Ia muncul di permukaan dan menghirup udara. Perahu kecilnya masih terapung tidak jauh dari situ. Ia memanjat naik dengan susah payah.
Begitu ia menoleh ke samping, matanya membelalak. Laut di sekelilingnya penuh dengan ikan yang berenang berkelompok.
“Wah…” bisiknya. “Begini rasanya laut yang hidup.”
Ia menebarkan jala dengan gerakan yang sudah dilatih ayahnya. Kali ini, ketika ia menarik jala, jala itu terasa sangat berat.
Isaac terkekeh. “Ini pasti banyak sekali!”
Dan betul saja. Jala itu penuh ikan mengkilap, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Ia memasukkan ikan ke dalam perahu dengan hati-hati. Perahunya hampir penuh.
“Terima kasih, Nikko… terima kasih, laut,” katanya pelan.
Saat Isaac mendayung pulang, beberapa nelayan lain yang sedang bersiap melaut melihat perahunya.
“Isaac! Wah, perahumu penuh ikan!” teriak salah satu dari mereka.
Isaac hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Di pantai, Ibu sudah menunggu. Ayah duduk di kursi dekat rumah, wajahnya masih pucat tapi matanya sangat hidup.
Saat perahu menyentuh pasir, Isaac melompat turun.
“Ayah! Ibu! Lihat! Aku bawa banyak ikan!”
Ibu menutup mulutnya, hampir tak percaya. “Ya Tuhan… Isaac…”
Ayah tertawa, batuk sedikit, lalu berkata, “Kamu benar-benar nelayan hebat sekarang.”
Isaac memeluk ayahnya. “Aku tidak sendirian, Yah. Laut membantuku. Teman-teman di bawah sana juga membantu. Dan… semua ini terjadi karena Ayah dulu mau mengajariku cara menebar jala, cara mendayung, cara sabar.”
Malam itu, mereka makan ikan bakar yang lezat. Bau ikan yang dipanggang bercampur dengan bau api dan udara laut. Mereka makan sambil tertawa bersama. Isaac bercerita—tidak semua, tentu, karena siapa yang akan percaya bahwa ia pernah punya insang di leher?—tapi cukup tentang betapa berharganya laut dan semua isinya.
Hari-hari berikutnya, kabar tersebar di antara para nelayan: ikan-ikan kembali banyak. Jala mereka tidak lagi kosong. Laut seolah hidup dan ramah lagi.
Setiap kali Isaac menatap permukaan laut yang berkilau, ia teringat mata Nikko dan janji Brastom.
Dalam hati, ia berkata, “Terima kasih. Aku tidak akan lupa.”
Sejak hari itu, Isaac tidak hanya belajar tentang keberanian, tetapi juga tentang pentingnya membantu dan menghormati alam. Ia tahu, ketika kita berusaha dengan sungguh-sungguh dan mau menolong makhluk lain, bantuan pun sering datang dengan cara yang tidak terduga.
Dan seperti Isaac, siapa pun bisa menjadi pahlawan—bukan hanya bagi keluarganya, tapi juga bagi dunia di sekelilingnya.