Isaac si Anak Pemburu

Si anak pemburu yang tinggal di hutan bersama ayahnya, suatu hari harus kehilangan ayahnya yang pergi ke hutan

CERPEN

penulis: friady

2/27/20245 min read

Di sebuah sudut hutan yang hijau dan luas, ada sebuah rumah kayu kecil yang hangat. Rumah itu tidak besar, tetapi terasa nyaman karena berada tepat di tepi sungai kecil yang airnya jernih. Setiap pagi, cahaya matahari masuk lewat celah-celah dedaunan, dan suara burung bernyanyi menjadi alarm alami bagi penghuninya.

Di rumah itu tinggal seorang anak laki-laki bernama Isaac dan ayahnya. Isaac berumur tujuh tahun. Matanya bulat seperti biji kopi dan penuh rasa ingin tahu. Ia suka bertanya tentang segala hal—tentang pohon tertinggi, jejak binatang di tanah, atau suara-suara aneh yang kadang terdengar di malam hari.

Ayah Isaac bekerja sebagai pemburu dan pencari makanan di hutan. Tapi ia bukan pemburu sembarangan. Ia selalu mengajarkan Isaac untuk menghormati alam dan mengambil hanya apa yang dibutuhkan.

Setiap pagi, Isaac dan ayahnya bangun ketika sinar matahari baru menyentuh jendela. Hembusan angin pagi selalu terasa segar. Mereka duduk bersama di meja kayu kecil sambil minum teh hangat.

“Bangun pagi membuat kita lebih kuat,” kata ayah suatu hari sambil mengacak-acak rambut Isaac.

Isaac tersenyum lebar. “Aku sudah kuat, Ayah! Lihat!” Ia menunjukkan otot lengannya yang kecil.

Ayah tertawa. “Kamu kuat, tapi harus tetap belajar banyak hal dari hutan.”

Setelah sarapan, ayah biasanya masuk ke hutan untuk berburu. Kadang Isaac ikut. Tapi tidak setiap hari, terutama ketika rute ayah terlalu jauh.

Suatu pagi yang cerah, ayah berkata, “Isaac, hari ini Ayah pergi ke hutan bagian barat. Tempatnya agak jauh. Kamu bantu bersihkan rumah, ya?”

Isaac mengangguk patuh. “Baik, Ayah. Hati-hati.”

Seperti biasa, ayah membawa tas kulitnya berisi pisau kecil, tali, peluit, dan beberapa alat lainnya. Isaac melambaikan tangan sampai bayangan ayah menghilang di balik pepohonan tinggi.

Hari itu berjalan seperti biasa. Isaac menyapu lantai, menimba air sedikit, dan mengelap meja. Kadang ia berhenti sebentar hanya untuk mendengarkan suara sungai atau melihat kupu-kupu singgah di bunga.

Waktu berjalan cepat, dan matahari mulai turun perlahan. Sinar oranye memantul di permukaan sungai. Angin sore terasa sedikit lebih dingin.

Biasanya, sebelum langit berubah gelap, ayah sudah pulang.

Tapi kali ini… ayah belum ada.

Isaac duduk di tangga rumah. Ia memandangi hutan dengan mata yang semakin gelisah.

“Kenapa Ayah lama sekali?” gumamnya sambil menggoyang-goyangkan kakinya.

Ia menunggu lagi. Sudah hampir gelap. Suara jangkrik mulai terdengar. Burung-burung pulang ke sarang. Namun tidak ada tanda-tanda ayah.

Isaac berdiri. Dada kecilnya berdebar-debar. “Ayah tidak pernah pulang selama ini… kalau begitu, pasti ada sesuatu yang terjadi!”

Isaac masuk rumah dan menyalakan lampu minyak. Dengan tangan bergetar, ia membuka laci tempat ayah menyimpan perlengkapan darurat.

Di dalam laci itu ada:

  • sepotong roti kering,

  • kantung air kecil,

  • tali,

  • pisau lipat,

  • suar merah,

  • dan kompas kecil.

Isaac memasukkan semuanya ke dalam tas kecilnya. Ia juga mengambil jaket, karena malam di hutan bisa sangat dingin.

Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Jantungnya berdegup lebih keras daripada suara serangga. Tapi ia tahu ia tidak bisa tinggal diam.

“Aku harus cari Ayah,” katanya lirih sambil menepis air mata yang hampir jatuh.

Ia menutup pintu rumah, lalu melangkah masuk ke hutan.

Begitu masuk hutan, Isaac menyadari satu hal: hutan di malam hari terasa sangat berbeda.

Suara burung digantikan oleh suara hewan malam yang tidak ia kenali. Angin terasa lebih dingin dan daun-daun sering bergerak tiba-tiba. Bayangan pepohonan tampak lebih besar. Cahaya bulan yang menembus celah-celah daun hanya cukup memberi sedikit penerangan.

Isaac mencoba mengingat pelajaran ayah tentang hutan.

“Jangan panik,” gumam Isaac meniru suara ayah. “Kalau panik, otak jadi tidak bisa berpikir.”

Ia mengambil napas panjang.

“Tetap di jalur yang jelas… lihat jejak… perhatikan suara…”

Ia berjalan perlahan, memeriksa tanah untuk mencari jejak kaki ayah. Ia melihat beberapa jejak sepatu yang mengarah ke bagian hutan lebih dalam.

“Itu pasti Ayah,” katanya.

Ia mengikuti jejak itu dengan hati-hati. Kadang ia berhenti untuk mendengarkan suara-suara di sekitarnya. Kadang ia harus menyingkirkan ranting yang menggantung rendah.

Tetapi setelah berjalan cukup lama… jejak itu menghilang.

Isaac menatap tanah sambil mengerutkan kening. “Ayah pernah bilang, kalau jejak hilang, cari tanda lain…”

Ia menunduk, memeriksa semak-semak. Ia menemukan ranting patah. Tidak jauh dari situ, ada daun yang terinjak.

Ia semakin yakin ia menuju arah yang benar.

Namun malam semakin gelap. Ia hanya mengandalkan lampu kecil di tasnya. Setiap langkah membuat dadanya semakin berdebar.

Tiba-tiba, Isaac tersadar bahwa ia tidak lagi mengenali jalur yang ia lewati.

“Oh tidak…” bisiknya. “Aku lupa mencatat jalanku sendiri… Ayah pasti marah kalau tahu…”

Isaac berdiri mematung. Di sekelilingnya, hanya gelap dan pepohonan tinggi.

Ia tersesat.

Ia menggigit bibir. Matanya mulai panas, tapi ia menggeleng keras.

“Tidak boleh nangis… Ayah bilang, selama aku ingat yang dia ajarkan, aku pasti selamat.”

Ia melihat sekeliling, lalu memutuskan untuk bertahan sampai pagi. Ayah selalu bilang, “Kalau tersesat malam hari, berhenti berjalan, bangun tempat berlindung, tunggu pagi.”

Isaac mengambil tali dan jaket. Ia mencari dua pohon yang jaraknya cukup dekat. Dengan tangan gemetar, ia membuat simpul kecil seperti yang ayah ajarkan dan mengikat kain jaketnya di antara kedua pohon untuk membuat peneduh kecil.

Ia mengumpulkan ranting dan dengan susah payah membuat api kecil.

Api itu tidak besar, tetapi cukup membuatnya hangat dan menjauhkan hewan kecil.

Isaac duduk sambil memeluk lutut. Ia memakan roti kering perlahan. Sekali-sekali ia menatap api, lalu menatap sekeliling.

“Ayah… kamu di mana…?” bisiknya.

Malam terasa panjang. Angin kadang bertiup kencang membuat daun-daun berdesir keras. Isaac merapatkan jaketnya dan mencoba tidur sebentar, tapi terbangun setiap kali mendengar suara.

Namun ia bertahan.

Ketika matahari akhirnya muncul perlahan dari balik pepohonan, Isaac merasa sedikit lega. Ia berdiri, meregangkan tubuh yang kaku.

“Tentang arah… harusnya aku cari tempat yang lebih tinggi,” katanya, mengulang pelajaran ayah.

Ia berjalan lagi. Tapi masih tidak ada tanda-tanda ayah.

Di tengah rasa putus asa, Isaac menepuk tasnya—dan merasakan sesuatu.

“Suar!” serunya. “Ayah bilang suar hanya dipakai kalau benar-benar darurat. Dan… ini darurat.”

Ia mengambil suar itu, menyalakan dengan hati-hati, lalu mengarahkannya ke langit.

Suar merah terang melesat naik dan meledak di langit seperti bintang jatuh terbalik.

Isaac menatapnya dengan harapan.

“Semoga Ayah lihat…”

Tidak jauh dari sana, sebenarnya ayah Isaac sedang duduk di dasar sebuah lubang besar. Kaki kirinya terkilir karena terjatuh malam sebelumnya. Ia sudah mencoba memanjat, tapi dinding lubang terlalu licin.

Ia meniup peluitnya sesekali, berharap Isaac mendengar. Namun suara peluit di hutan sering tertelan angin.

Tiba-tiba, cahaya merah terang terlihat di atas pepohonan.

Ayah Isaac berdiri tersentak. “Itu… suar! Isaac! Itu pasti Isaac!”

Ia mengambil peluitnya dan meniup sekuat tenaga. “Fiuuuuuuuuuuuut!”

Suara itu melayang jauh di hutan.

Isaac sedang menunggu di tempatnya ketika ia mendengar bunyi peluit.

Ia menegakkan tubuh. “Itu… itu suara peluit Ayah!”

Ia menajamkan telinga.

“Fiuuuuuuuuuuuut!”

Isaac berlari mengikuti arah suara. “Ayah! Ayah! Aku datang!”

Ia berlari menembus semak, melewati batang tumbang, menghindari akar besar. Detak jantungnya cepat, tetapi langkahnya tidak berhenti.

Suara peluit semakin jelas. “Ayah! Tahan sebentar!” jerit Isaac.

Hingga akhirnya ia tiba di sebuah lubang besar. Ia melihat seseorang di bawah—Ayah!

“Ayah!!”

Ayah menengadah dengan wajah lega. “Isaac! Syukurlah kamu selamat!”

Isaac hampir menangis bahagia. “Ayah kenapa di sana?”

“Ayah terjatuh ketika hari gelap. Kaki Ayah sakit. Tapi kamu melihat suar itu, kan?”

Isaac mengangguk cepat. Ia membuka tasnya dan mengambil tali.

“Ayah bilang tali bisa menyelamatkan kita kalau tahu cara pakainya!” serunya.

Ia mengikatkan salah satu ujung tali ke pohon besar. Ia memastikan simpulnya kuat—seperti yang pernah ia latih ratusan kali dengan Ayah.

“Siap, Ayah! Pegang talinya!”

Ayah memegang ujung tali dan perlahan memanjat. Isaac menarik perlahan, menggunakan seluruh tenaga kecilnya.

Setelah beberapa menit yang terasa sangat lama…

Ayah berhasil naik.

Isaac memeluk ayahnya erat-erat. “Ayah! Aku kira Ayah… aku takut…”

Ayah membalas pelukan itu. “Terima kasih, Isaac. Kamu menyelamatkan Ayah.”

Perjalanan pulang tidak mudah. Ayah berjalan pincang. Isaac membantu menopangnya. Sesekali mereka berhenti untuk minum air dari botol Isaac.

Tapi kini mereka tidak terlalu takut, karena mereka bersama.

Saat akhirnya rumah kayu kecil itu terlihat di kejauhan, hati Isaac terasa sangat hangat.

Rumah itu terlihat jauh lebih indah dibanding sebelumnya—karena kini mereka pulang dengan selamat.

Malam itu, sambil beristirahat di depan api di rumah, Isaac duduk dekat ayahnya.

“Ayah…” katanya pelan. “Aku dulu pikir pelajaran Ayah itu cuma untuk bersenang-senang. Tentang simpul tali, tentang api kecil, tentang jejak. Tapi… semua itu menolongku.”

Ayah tersenyum. “Setiap ilmu itu penting, Isaac. Bahkan kalau kelihatannya tidak berguna. Suatu hari, kamu akan membutuhkannya.”

Isaac menatap api. “Aku janji, Ayah. Aku akan terus belajar apa pun yang Ayah ajarkan. Aku tidak akan malas lagi.”

Ayah mengusap kepala Isaac. “Kamu sudah membuktikan bahwa kamu mendengarkan, Nak. Kamu sudah hebat.”

Isaac tersenyum bangga.

Ia tahu, malam itu ia bukan hanya menemukan ayahnya.

Ia juga menemukan keberanian… dan menghargai setiap ilmu yang pernah ia pelajari.