Isaac Si Nakal yang Menjadi Bertanggungjawab

Isaac yang malas merapikan mainannya mendadak berubah menjadi lebih bertanggung jawab, kenapa ya?

CERPEN

friady

4/22/20248 min read

Di sebuah kota kecil yang cukup sunyi, rumah-rumah berjajar rapi di pinggir jalan. Pohon-pohon tumbuh di depan rumah, dan burung-burung sering singgah di kabel listrik. Di salah satu rumah sederhana, tinggallah seorang anak laki-laki berusia lima tahun bernama Isaac.

Isaac punya senyum manis dan tawa yang mudah menular. Matanya bulat dan cerah. Ia suka berlari ke sana kemari, meloncat di sofa, dan bermain dengan mobil-mobilan, balok kayu, dan boneka dinosaurus. Di kepalanya selalu ada cerita: kadang ia menjadi pahlawan super, kadang menjadi pembalap, kadang menjadi kapten kapal.

Tapi di balik keceriaannya, Isaac punya satu sifat yang sering bikin repot: ia malas merapikan.

Setiap kali selesai bermain, mainannya dibiarkan begitu saja di lantai. Mobil-mobilan berserakan di ruang tamu, balok-balok kayu tersebar di lorong, boneka kecil tersangkut di bawah meja. Kadang Ibu sudah mengingatkan, tapi Isaac hanya menjawab, “Nanti saja, Bu…” dan lari lagi.

Suatu sore, setelah makan siang, Ibu berkata,
“Isaac, kalau selesai bermain, mainannya dimasukkan ke kotak, ya. Rumah jadi berantakan dan bisa bikin orang jatuh.”

“Tapi aku masih mau main lagi nanti,” jawab Isaac sambil menggerak-gerakkan dinosaurus di lantai.

“Kalau begitu, pilih beberapa saja yang mau dimainkan. Yang lain dibereskan dulu.”

Isaac manyun. “Ribet, Bu…”

Ibu menghela napas lembut. “Ibu tidak marah. Ibu hanya tidak mau ada yang terluka.”

Ayah Isaac, yang biasa dipanggil Bapak, juga sering berbicara dengannya.

“Isaac, kalau jadi anak hebat, harus bertanggung jawab,” kata Bapak suatu malam. “Main boleh, tapi bereskan lagi sesudahnya.”

Isaac mengangguk, tapi hatinya tidak terlalu memikirkan itu. Baginya, bermain jauh lebih menarik daripada merapikan.

Di rumah itu juga ada seorang balita kecil yang lucu. Adik perempuan Isaac bernama Kaluna, berumur dua tahun. Rambutnya masih tipis, suaranya masih pelat, dan jalannya kadang masih goyah. Tapi tawanya renyah dan matanya berbinar setiap kali melihat Isaac.

Kadang Isaac sayang sekali pada adiknya. Ia menggoyang-goyangkan mainan di depan Kaluna, membuat suara lucu supaya adiknya tertawa. Tetapi kadang, kalau Isaac sedang kesal atau lelah, ia jadi jahil.

Pernah suatu hari, ia merebut boneka kecil dari tangan Kaluna.

“Itu punyaku!” protes Kaluna dengan suara cempreng.

“Iya, tapi aku mau lihat dulu,” jawab Isaac tanpa mau mengembalikannya.

Kaluna cemberut, lalu menangis keras, “Huaaaa…!”

Ibu datang terburu-buru. “Isaac, kenapa adik menangis?”

“Adik mau bonekaku,” kata Isaac cemberut.

“Boneka itu kalian pakai bergantian, kan? Kalau begitu, sekarang giliran adik. Kamu main yang lain dulu, ya.”

Isaac mendengus kecil. “Hmmm…”

Kadang-kadang, Isaac juga suka lari kencang di lorong rumah tanpa melihat ke depan, sehingga hampir menabrak Kaluna. Ibu sering mengingatkan, “Pelan-pelan, Nak. Di rumah bukan tempat balapan.”

Namun, sebagian besar waktu, hari-hari mereka tetap penuh tawa.

Sampai suatu hari, terjadi sesuatu yang tidak pernah mereka duga.

Hari itu, rumah terasa lebih berantakan dari biasanya. Sejak pagi, Isaac bermain di ruang tamu, lalu beralih ke kamar, lalu ke lorong, tapi tidak satu pun mainan yang dikembalikan ke kotak. Mobil-mobilan merah tersangkut di dekat pintu kamar. Balok kayu tergeletak di tengah lorong. Boneka kecil tertidur di bawah meja makan.

Ibu sebenarnya sudah mengingatkan beberapa kali.

“Isaac, tolong bereskan dulu mainannya.”

“Nanti, Bu. Aku lagi bikin garasi mobil,” jawab Isaac.

Setelah itu, Ibu sibuk di dapur, menyiapkan makan malam. Bapak belum pulang dari kantor. Kaluna sedang bermain boneka di karpet.

Malam pun datang. Lampu-lampu rumah menyala. Dari jendela terlihat langit sudah gelap. Sesudah makan malam, Ibu membawa pakaian-pakaian kotor ke mesin cuci. Ia berjalan melewati lorong… dan tidak melihat mobil-mobilan merah yang tergeletak di lantai.

Roda mobil-mobilan itu pas berada di bawah telapak kaki Ibu.

Tiba-tiba—

“Waaah!” Ibu terpeleset. Tubuhnya oleng dan jatuh ke samping.

Bruuk!

Suara tubuh jatuh terdengar cukup keras. Kaluna langsung tersentak, lalu menangis.
“Uwaaaa! Ibu jatuh…!”

Isaac yang sedang memindahkan balok di kamar segera berlari keluar. Dilihatnya Ibu terduduk di lantai, wajahnya meringis kesakitan.

“Ibu!” seru Isaac panik. “Ibu kenapa?”

Kaki Ibu terasa sangat sakit. Ia mencoba menggerakkannya pelan, tapi malah mengerang, “Aduh…”

Tak lama, Bapak pulang. Begitu melihat keadaan Ibu, Bapak langsung cemas.

“Astaga, kamu jatuh?” tanya Bapak.

“Iya… sepertinya aku menginjak mainan di lantai,” jawab Ibu pelan sambil menahan perih.

Mata Isaac melebar. Ia memandang mobil-mobilan merah yang tergeletak tidak jauh dari kaki Ibu. Hatinya serasa mengecil. Mobil itu jelas miliknya. Ia lah yang meninggalkannya di sana.

Bapak segera membawa Ibu ke rumah sakit. Tetangga sebelah, Tante Rina, datang sebentar untuk membantu menjaga Isaac dan Kaluna.

Sebelum pergi, Bapak menatap Isaac. “Kamu jaga adik baik-baik dulu, ya. Bapak akan kabari.”

Isaac mengangguk pelan. Ia tidak banyak bicara. Di dalam dadanya, perasaan bersalah mulai tumbuh besar.

Di rumah sakit, dokter berkata bahwa kaki Ibu terkilir cukup parah dan butuh istirahat. Bapak harus menunggui Ibu malam itu. Jadi, malam itu Isaac dan Kaluna menginap di rumah, ditemani Tante Rina.

Kaluna berkali-kali menangis, “Aku mau Ibu… Ibu….”

Tante Rina menggendongnya. “Ibu sedang diobati dokter, sayang. Nanti kalau sudah sembuh, Ibu pulang.”

Isaac duduk di sudut sofa, memeluk lututnya. Ia memandangi mobil-mobilan merah yang kini sudah diambil dan diletakkan di meja.

“Tante…” panggil Isaac pelan.

“Iya, Nak?”

“Itu mobil… aku yang lupa bereskan…” kata Isaac dengan suara lirih.

Tante Rina menatapnya lembut. “Tante tahu kamu tidak sengaja. Tapi sekarang kamu tahu, kan, kenapa Ibu dan Bapak sering menyuruhmu merapikan mainan?”

Isaac mengangguk dengan mata berkaca-kaca. “Kalau aku bereskan… Ibu nggak jatuh, ya?”

“Tante tidak tahu pasti,” jawab Tante Rina jujur. “Tapi mainan di lantai memang bisa bikin orang terpeleset. Yang penting sekarang, kamu belajar dari kejadian ini.”

Isaac menunduk.

Malam itu, setelah Kaluna tertidur di ranjang, Isaac baring di sampingnya. Kamar terasa lebih sepi dari biasanya tanpa suara Ibu dan Bapak. Lampu tidur menyala redup. Bayangan lemari tampak panjang di dinding.

Isaac memeluk bantal dan berbisik pada dirinya sendiri, “Aku nggak mau Ibu sakit karena aku lagi…”

Keesokan paginya, Bapak pulang sebentar untuk mengabari.

“Kaki Ibu harus istirahat di rumah sakit beberapa hari,” kata Bapak. “Bapak akan sering bolak-balik ke rumah sakit.”

“Terus… di rumah siapa yang jaga?” tanya Isaac cemas.

“Bapak akan usahakan pulang pagi dan malam. Siang hari tante Rina bisa membantu. Tapi…” Bapak menatap Isaac lekat-lekat, “sekarang, Bapak butuh bantuanmu. Kamu sudah cukup besar untuk membantu jaga Kaluna.”

Isaac menelan ludah. “Aku? Jaga adik?”

Bapak mengangguk. “Tentu bukan sendirian. Tapi kamu bisa bantu hal-hal kecil. Bantu adik makan, bantu adik ambil mainan, dan yang paling penting… jangan biarkan mainan berserakan lagi. Bisa?”

Isaac terdiam. Ia memandang Kaluna yang sedang duduk di lantai memeluk bonekanya. Lalu ia teringat Ibu yang meringis menahan sakit. Perasaan bersalah itu muncul lagi, namun kali ini bercampur dengan tekad baru.

“Aku… aku mau coba, Pak,” jawab Isaac akhirnya.

Bapak tersenyum dan mengusap kepala Isaac. “Itu baru anak hebat.”

Hari-hari berikutnya menjadi hari yang berbeda bagi Isaac.

Pagi-pagi, setelah sarapan, Bapak pergi ke rumah sakit. Tante Rina datang membantu sebentar, tapi tidak bisa tinggal terus-terusan. Ada waktunya di mana Isaac dan Kaluna hanya berdua di rumah.

Hari pertama, saat jam makan siang, Kaluna mulai rewel.

“Isaac… lapar…” katanya sambil menarik baju kakaknya.

“Baik, kita cari makan, ya,” kata Isaac.

Ia menyeret kursi kecil mendekati meja, lalu mengambil roti dari wadah. Dengan hati-hati ia mengolesi selai di atas roti. Tangan kecilnya agak bergetar, sehingga selai melebar kemana-mana.

“Ini,” katanya sambil menyodorkan roti ke Kaluna.

Kaluna menggigit sedikit, lalu tersenyum. “Enak.”

Isaac merasa dadanya hangat. “Kalau kamu mau minum, bilang, ya.”

Siang itu, setelah makan, Kaluna menguap.

“Mau bobok,” katanya.

Biasanya Ibu yang menggendong, menyelimuti, dan membacakan cerita. Kali ini Ibu tidak ada. Isaac berdiri bingung di samping ranjang.

“Kamu mau dengar cerita?” tanya Isaac akhirnya.

Kaluna mengangguk, mengusap matanya.

Isaac mengambil buku gambar bergambar kelinci. Ia duduk di pinggir ranjang dan mulai membaca, walau masih terbata-bata.

“Pada… suatu hari… ada kelinci kecil yang… yang suka wortel…”

Kaluna memandang kakaknya dengan mata sayu. Pelan-pelan, kelopak matanya menutup. Napasnya menjadi teratur. Ia tertidur.

Isaac menutup buku perlahan. Ia menatap adiknya yang terlelap dan berpikir, “Ternyata susah juga ya, jadi Ibu…”

Sore hari, setelah Kaluna bangun, mereka bermain di ruang tamu. Kali ini, Isaac sengaja hanya mengeluarkan sedikit mainan.

“Kaluna, kita main balok ini saja, ya. Yang lain nanti dulu,” kata Isaac.

“Kenapa?” tanya Kaluna.

“Soalnya kalau kebanyakan, lantai jadi penuh. Nanti ada yang jatuh lagi.”

Kaluna mengangguk, meski mungkin belum mengerti sepenuhnya. Mereka menyusun balok, membuat menara tinggi. Saat menara itu roboh, mereka tertawa bersama.

Setiap kali selesai bermain, Isaac mengumpulkan balok dan memasukkannya ke dalam kotak.

“Ini buat siapa?” tanya Kaluna.

“Buat semua,” jawab Isaac. “Buat Ibu, biar nggak jatuh lagi. Buat Bapak, biar nggak capek beresin. Buat kita juga, biar rumah rapi.”

Kaluna ikut memasukkan balok kecil sambil tertawa. “Rapih… rapih…”

Tidak selalu berjalan mulus. Pernah suatu sore, Isaac kelelahan. Ia juga ingin menonton televisi. Setelah bermain mobil-mobilan, ia duduk di sofa dan lupa merapikan. Kaluna berlari kecil ke arah mobil-mobilan dan hampir terpeleset.

“Hoi! Hati-hati!” seru Isaac panik. Ia cepat-cepat memegang tangan adiknya.

Jantungnya berdegup kencang. Kakinya terasa lemas.

Ia memandang mobil yang tergeletak di lantai, persis seperti malam saat Ibu jatuh. Rasa takut menyergapnya lagi.

Dengan sigap ia mengumpulkan semua mobil dan memasukkannya ke dalam kotak.

“Kaluna, kalau ada mainan di lantai, jangan diinjak-injak, ya,” katanya. “Tunggu kakak bereskan dulu.”

Kaluna mengangguk, “Iya. Nanti jatuh…”

Malam harinya, Isaac menceritakan kejadian itu pada Bapak.

“Hampir saja adik jatuh, Pak. Aku lupa beresin mainan,” kata Isaac sambil menunduk.

“Tapi kamu langsung bereskan, kan?” tanya Bapak.

“Iya.”

“Berarti kamu sudah belajar,” jawab Bapak pelan. “Tidak apa-apa kalau masih kadang lupa. Yang penting, kamu sadar dan memperbaikinya.”

Beberapa hari kemudian, Ibu akhirnya boleh pulang. Kakinya masih dibalut dan ia harus berjalan pelan dengan bantuan tongkat kecil. Bapak menuntunnya masuk rumah.

“Selamat datang, Bu!” seru Isaac dan Kaluna bersamaan.

Isaac sudah merapikan ruang tamu bersama Bapak. Kotak mainan berada di sudut, dan lantai tampak jauh lebih lapang dari biasanya.

Ibu memandang sekeliling, terkejut.

“Wah… kok rapi sekali?” tanyanya.

“Itu Isaac, Bu,” kata Bapak sambil tersenyum. “Dia yang paling sering ingatkan kita semua untuk bereskan mainan.”

Isaac tersenyum malu. “Aku… nggak mau Ibu jatuh lagi.”

Ibu duduk di sofa dan menepuk tempat di sampingnya. “Sini, Isaac.”

Isaac duduk, dan Ibu memeluknya.

“Ibu bangga sekali padamu,” katanya lembut. “Ibu tahu, kamu pasti capek bantu jaga adik dan bantu beres-beres rumah.”

Isaac menggeleng pelan. “Capek… tapi aku jadi tahu, Ibu tiap hari lebih capek. Ibu harus masak, beresin rumah, jaga aku dan Kaluna. Rasanya susah…”

Ibu terkekeh kecil. “Iya, kadang susah. Tapi Ibu senang melakukannya. Dan kalau ada yang bantu, Ibu senang sekali.”

Kaluna ikut memeluk Ibu dan Isaac. “Aku suka kalau kakak bacain cerita,” katanya pelan.

Beberapa hari setelah itu, saat makan malam, mereka duduk bersama di meja. Ibu sudah bisa berjalan sedikit lebih baik, meski masih pelan.

“Isaac,” kata Bapak sambil menyendok sayur ke piring. “Bapak lihat kamu banyak berubah ya, Nak. Sekarang kamu lebih sering beresin mainan, lebih sayang sama adik, dan suka bantu Ibu. Kenapa bisa begitu?”

Isaac terdiam sebentar. Lalu ia menatap Ibu dan Bapak secara bergantian. Ada rasa bangga kecil di dadanya.

“Aku… takut waktu Ibu jatuh,” jawabnya jujur. “Aku sedih. Soalnya itu gara-gara mainanku. Terus waktu Ibu di rumah sakit, aku harus bantu jaga Kaluna. Ternyata susah. Aku jadi tahu… Ibu dan Bapak setiap hari kerja keras buat kita. Jadi… aku nggak mau tambah susah.”

Ibu dan Bapak saling berpandangan, mata mereka sedikit berkaca-kaca.

“Aku juga senang bisa dekat sama adik,” lanjut Isaac. “Dulu aku sering bikin Kaluna nangis. Sekarang, kalau Kaluna nangis, aku malah pengen nenangin.”

Kaluna tertawa kecil. “Kakak lucu. Kakak baca buku kelinci.”

Semua tertawa.

Bapak mengusap kepala Isaac dengan lembut. “Terima kasih, Isaac. Bapak dan Ibu sangat menghargai usahamu. Tidak apa-apa kalau kadang kamu masih lupa. Kita bisa saling mengingatkan.”

Ibu menambahkan, “Yang penting, kamu mau belajar dan mau memperbaiki kesalahan. Itu namanya bertanggung jawab.”

Sejak hari itu, Isaac benar-benar berusaha menjaga kebiasaan barunya. Setiap kali selesai bermain, ia mengambil kotak mainan dan berkata pada Kaluna, “Ayo, kita bereskan. Kalau rumah rapi, semua senang.”

Kadang ia masih malas, kadang ia masih menunda. Tapi setiap kali matanya melihat mainan tergeletak di tengah jalan, ia teringat malam saat Ibu jatuh. Ia teringat perasaan takut di dadanya. Dan itu cukup untuk membuatnya bergerak.

Ia juga menjadi lebih lembut pada Kaluna. Kalau adiknya ingin pinjam mainan, ia mencoba berbagi. Kalau adiknya menangis, ia mendekat dan berkata, “Kenapa? Mau kakak peluk?” Kadang hanya dengan pelukan itu, tangis Kaluna berhenti.

Isaac mungkin masih anak kecil berusia lima tahun. Ia masih suka bermain, berlari, tertawa keras, dan kadang berbuat salah. Tapi kini ia tahu satu hal penting:

Bahwa mainan yang dibereskan, rumah yang rapi, dan adik yang dijaga dengan baik adalah bentuk cinta untuk Ibu dan Bapak. Dan bahwa menjadi anak yang baik bukan berarti tidak pernah salah, tapi berani mengakui kesalahan dan mau memperbaikinya.