Membudayakan Anak untuk “Mempertanyakan”

Deskripsi blog

PARENTING

Friady

11/13/20255 min read

worm's-eye view photography of concrete building
worm's-eye view photography of concrete building
Mengapa Kemampuan Anak untuk “Mempertanyakan” Adalah Tameng Terkuat agar Tidak Mudah Tertipu Saat Dewasa

Kasus Indra Kenz mengingatkan kita bahwa pencitraan bisa menjadi alat manipulasi yang sangat efektif. Ia tampil seolah-olah sukses luar biasa, lengkap dengan mobil mewah, arloji mahal, hingga gaya hidup serba elite. Banyak orang tua bahkan saat itu ikut terpengaruh, bukan hanya anak muda. Komentar-komentar seperti “dia masih muda tapi sudah sejauh itu” atau “mungkin benar trading bisa memperkaya siapa saja” terdengar di mana-mana.

Padahal, banyak orang sebenarnya tidak memahami apa yang sedang mereka percayai. Mereka percaya karena tampilannya meyakinkan, bukan karena datanya benar.

Fenomena ini menegaskan satu hal penting: kemampuan mempertanyakan adalah keterampilan hidup. Jika tidak dibentuk sejak kecil, seseorang bisa sangat mudah terseret arus, percaya omongan orang hanya karena penampilan luar, dan akhirnya mengambil keputusan berbahaya tanpa analisis yang matang.

Dalam konteks parenting, yang kita latih bukan hanya kecerdasan, tetapi juga kekuatan berpikir. Dan semuanya dimulai dari kebiasaan kecil: membiasakan anak bertanya.

Mengapa Banyak Orang Mudah Terpengaruh Pencitraan?

Salah satu penyebabnya adalah karena banyak orang dibesarkan dengan pola pikir “ikut saja” dan “jangan banyak tanya”. Ketika dewasa, mereka cenderung:

  • menerima informasi hanya dari permukaan,

  • tidak memverifikasi,

  • meniru perilaku orang lain,

  • percaya pada figur yang tampak meyakinkan,

  • merasa tidak enak membantah,

  • lebih mengandalkan emosi daripada logika.

Contoh nyata ini sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada orang tua.

Contoh-Contoh Nyata di Dunia Orang Tua

Berikut sejumlah situasi nyata, dekat, dan relevan bagi para orang tua, yang menunjukkan pentingnya kemampuan mempertanyakan.

1. Fenomena “momfluencer” yang selalu terlihat sempurna

Banyak orang tua mengikuti sosok influencer parenting yang terlihat hidupnya sangat ideal: rumah rapi, anak-anak pintar, suami harmonis, aktivitas selalu menyenangkan, dan semua tampak mulus.

Beberapa orang tua sampai membeli produk mahal yang direkomendasikan hanya karena tampilannya bagus, tanpa memeriksa apakah barang itu:

  • benar-benar dibutuhkan,

  • sesuai kebutuhan anak,

  • aman digunakan,

  • atau hanya bagian dari endorsement.

Ada orang tua yang menyesal setelah membeli mainan jutaan rupiah, padahal anaknya cuma main sebentar. Mengapa bisa begitu? Karena mereka percaya pada tampilan luar tanpa mempertanyakan prosesnya.

Anak yang terbiasa kritis sejak kecil, ketika dewasa akan bertanya:

“Apa benar produk ini bagus? Apa bukti objektifnya? Kenapa harganya mahal? Ada alternatif lain?”

Itulah yang kita ingin bangun dalam diri mereka.

2. Isu kesehatan viral yang tidak berdasar

Sering beredar pesan seperti:

“Jangan makan ini, nanti bisa begini…”
“Atau obat A bisa menyembuhkan semuanya…”

Tanpa verifikasi, orang tua langsung panik atau langsung percaya. Bahkan terkadang pesan itu diteruskan ke banyak orang.

Jika sejak kecil seseorang terbiasa mempertanyakan, saat dewasa ia akan berkata:

“Tunggu dulu, sumbernya dari mana? Ada penelitian? Atau ini hanya pesan berantai?”

Kemampuan sederhana ini bisa mencegah banyak kerugian, panik berlebihan, dan keputusan yang salah.

3. Ajakan investasi “cuan cepat” yang terlihat meyakinkan

Para orang tua juga tidak kebal dari tawaran “investasi” cepat kaya. Misalnya:

  • arisan online yang menjanjikan imbal balik besar,

  • investasi bodong berkedok koperasi,

  • skema ponzi yang dibalut bahasa finansial,

  • platform trading yang katanya “pasti untung”.

Orang yang tidak terbiasa mempertanyakan akan mudah percaya hanya karena:

  • testimoni palsu,

  • foto mewah yang dipajang,

  • cerita “sudah banyak yang berhasil”,

  • atau bujuk rayu teman.

Jika anak dibesarkan dengan kemampuan berpikir kritis, kelak ia akan bertanya:

“Kalau keuntungan besar, kenapa mereka nagih investor? Mana bukti legalitasnya? Bagaimana risikonya?”

Kemampuan bertanya seperti itu bisa menyelamatkan masa depan mereka.

4. Perbandingan kehidupan dengan tetangga atau kerabat

Dalam kelompok keluarga atau tetangga, sering muncul komentar:

“Anak si A kok sudah bisa ini, kok anak kamu belum?”
“Si itu les banyak, masa kamu enggak ikut?”
“Keluarga itu kok bisa liburan jauh, kita harusnya bisa juga.”

Tanpa kemampuan berpikir kritis, orang tua bisa terbawa arus:

  • memaksa anak ikut banyak les padahal anak tidak siap,

  • membandingkan anak sendiri secara tidak sehat,

  • mengeluarkan uang di luar kemampuan,

  • merasa gagal hanya karena standar orang lain.

Padahal keluarga lain punya kondisi, kemampuan finansial, dan prioritas berbeda. Anak yang dibiasakan berpikir kritis akan tumbuh dengan pola pikir:

“Setiap keluarga berbeda. Buktinya apa bahwa kita harus sama?”

Ini mengurangi tekanan sosial dan kecemburuan yang tidak perlu.

5. Percaya pada “aturan instan” dalam pengasuhan

Banyak orang tua mengikuti tren parenting tertentu tanpa menguji kecocokannya dengan karakter anak. Misalnya metode diet tertentu, pola tidur tertentu, atau teknik disiplin tertentu.

Jika anak tidak dibiasakan mempertanyakan sejak kecil, kelak saat dewasa ia juga akan mengikuti arus tanpa menilai apakah sesuatu:

  • relevan,

  • masuk akal,

  • sesuai dengan konteks keluarga sendiri,

  • atau benar-benar sesuai fakta.

Anak yang terbiasa berpikir analitis akan bertanya:

“Apakah metode ini cocok untuk keluargaku? Apa dampaknya? Kenapa harus begini?”

Inilah kemampuan yang akan membangun kedewasaan emosional dan rasionalitas.

Mengapa Kemampuan Mempertanyakan Penting untuk Masa Depan?

Kemampuan mempertanyakan bukan sekadar kemampuan akademis, tetapi kemampuan bertahan hidup. Anak yang kritis:

  • lebih sulit ditipu,

  • tidak mudah percaya pada pencitraan,

  • mampu menilai informasi dengan bijak,

  • tidak ikut arus hanya karena semua orang ikut,

  • berani berpikir berbeda,

  • punya dasar kuat untuk mengambil keputusan penting.

Dalam dunia kerja dan kehidupan dewasa, kemampuan ini sangat berharga. Mereka mampu menimbang risiko, mencari bukti, dan menganalisis situasi sebelum memutuskan sesuatu.

Cara Melatih Anak agar Terbiasa Mempertanyakan

Berikut cara-cara yang dapat diterapkan orang tua.

1. Jangan mematikan pertanyaan anak

Jawaban sederhana seperti “nanti juga tahu sendiri” bisa mematikan rasa ingin tahu. Lebih baik menjawab, atau mengajak anak mencari jawaban bersama.

2. Tanyakan kembali pendapat anak

Kalimat “Menurut kamu bagaimana?” membantu anak membangun logika dan keberanian berpendapat.

3. Ajarkan membandingkan sumber informasi

Ketika anak mengambil informasi dari internet, ajarkan untuk memeriksa sumber lain.

4. Berikan ruang aman untuk berpikir

Hargai pertanyaan anak, sekalipun sederhana. Jangan tertawakan atau meremehkannya.

5. Apresiasi proses berpikir

Anak perlu merasa bahwa proses berpikir itu berharga. Beri pujian kecil seperti, “Bagus sekali kamu bisa kepikiran hal itu.”

Cara Praktis Membiasakan Anak Bertanya: Teknik Inversi Pertanyaan

Teknik yang paling efektif adalah memancing anak dengan komentar yang seharusnya menimbulkan rasa penasaran. Misalnya ketika melihat ikan di danau yang keruh, Anda bisa berkata:

“Kamu kok tidak tanya sih, kenapa ikannya hidup padahal airnya jorok? Kita saja kalau minum air kotor bisa sakit.”

Secara psikologis, anak akan merasa bahwa ada hal yang perlu dipahami, sehingga ia mulai bertanya. Ketika hal ini dilakukan secara konsisten, anak mulai terbiasa menanyakan hal-hal lain secara alami.

Contoh Lain Teknik Inversi Pertanyaan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Contoh 1: Melihat bangunan tinggi

“Kamu kok tidak tanya sih, bangunan itu kok bisa berdiri tinggi tanpa jatuh?”

Contoh 2: Melihat orang menyeberang jalan sembarangan

“Loh, kamu kok tidak penasaran sih, kenapa orang itu bisa bahaya kalau menyeberang tanpa lihat kiri-kanan?”

Contoh 3: Melihat pedagang memberikan promo besar

“Kamu tidak bertanya ya, kenapa harganya bisa murah sekali? Untungnya dari mana?”

Contoh 4: Ketika melihat berita viral

“Kenapa kamu tidak penasaran apakah berita itu benar atau hanya dibuat-buat?”

Teknik sederhana ini menanamkan refleks mental pada anak: jika ada sesuatu yang janggal, bertanyalah.

Kesimpulan: Anak yang Terbiasa Bertanya Akan Lebih Siap Menghadapi Dunia

Membiasakan anak bertanya adalah bentuk perlindungan jangka panjang. Kemampuan berpikir kritis bukan hanya tentang kecerdasan, tetapi tentang keamanan mental dan emosional. Anak yang kritis:

  • tidak mudah dimanipulasi,

  • tidak mudah mengikuti arus,

  • mampu membedakan fakta dan pencitraan,

  • membuat keputusan lebih baik,

  • dan memiliki pondasi kuat untuk menghadapi dunia yang penuh informasi palsu.

Kasus-kasus seperti penipuan investasi, pencitraan sosial, hoaks kesehatan, dan tekanan sosial hanyalah sebagian contoh bagaimana orang dewasa mudah terjebak jika tidak terbiasa mempertanyakan sejak kecil.

Dengan membantu anak mempertanyakan, kita tidak hanya mencerdaskan mereka — kita membekali mereka dengan kemampuan hidup yang nilainya jauh lebih tinggi daripada apa pun yang bisa kita berikan.