Pengalaman Didengarkan untuk Mendengarkan

Deskripsi blog

PARENTING

Joy Butar

11/13/20254 min read

Di Rumah-Rumah Kita, Semua Orang Saling Bicara — Tapi Tidak Selalu Saling Mendengarkan

Di banyak keluarga saat ini, komunikasi terdengar seolah tidak pernah berhenti. Ada instruksi dari orang tua, celoteh anak, televisi yang menyala, notifikasi HP yang terus berbunyi, dan kesibukan rumah tangga yang tidak ada habisnya. Semua suara itu membuat rumah terdengar penuh kehidupan. Namun di balik keramaian itu, ada satu pertanyaan penting yang jarang kita pikirkan: dari semua percakapan yang terjadi setiap hari, seberapa banyak yang benar-benar didengarkan?

Di era yang serba cepat dan penuh distraksi, kita sering melakukan banyak hal bersamaan. Kita mengetik pesan sambil menanggapi cerita anak, menyelesaikan urusan kerja sambil menjawab pertanyaan mereka, atau memberikan instruksi sambil menyapu. Kita merasa “sudah hadir”, karena memberi respons singkat seperti “iya”, “sebentar”, atau “Mama dengar”. Tetapi bagi anak, kehadiran tidak dinilai dari seberapa sering kita membalas kata-katanya. Kehadiran dinilai dari seberapa sungguh-sungguh kita mendengarkan suara mereka tanpa terbagi.

Dan inilah paradoks dalam pengasuhan: kita ingin anak mau mendengarkan, tetapi mereka jarang mengalami bagaimana rasanya didengarkan. Kita menuntut anak memberikan fokus penuh ketika dipanggil, taat mengikuti instruksi, dan memberikan respons yang tepat. Namun di sisi lain, dalam keseharian mereka sering mendapat respon setengah hati. Kita meminta mereka mengerti kita, tetapi kita jarang memberi contoh tentang bagaimana hadir dan menyimak seseorang dengan penuh perhatian.

Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan adalah: bisakah anak belajar mendengarkan jika mereka tidak pernah benar-benar mengalami bagaimana rasanya didengarkan? Pengalaman saya sendiri memberikan jawabannya.

Kisah Kecil yang Membuka Mata

Anak saya berusia enam tahun. Ia sangat suka menggambar. Apa pun yang sedang memenuhi pikirannya—film yang baru ia tonton, karakter dari bukunya, atau imajinasi liar tentang monster dan pahlawan—semuanya ia tuangkan ke sebuah kertas. Setiap selesai menggambar, ia akan berlari menghampiri saya dengan wajah yang bersinar, duduk di depan saya, dan mulai bercerita panjang. Ia menunjuk satu per satu tokoh dalam gambarnya sambil menjelaskan alur cerita yang ia ciptakan. Baginya, gambar itu bukan sekadar gambar. Itu adalah dunia yang ingin ia bagikan kepada saya.

Namun sebagian besar pekerjaan saya dilakukan lewat HP. Email, chat bisnis, laporan, dan segala informasi penting selalu muncul di layar kecil itu. Tanpa saya sadari, tangan saya tetap menggenggam HP, mata saya tetap menatap layar, dan pikiran saya terbagi, meskipun mulut saya memberikan komentar otomatis seperti, “Iya, lalu?” atau “Keren banget.”

Hari itu ia bercerita panjang seperti biasanya. Saya merespon, tetapi tidak benar-benar hadir. Ketika pekerjaan selesai dan saya mengangkat kepala, anak saya masih duduk di samping saya. Tangannya memegang kertas yang sedikit terlipat di ujung. Ia tersenyum kecil, seolah puas sudah bercerita. Namun saya justru merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak bisa saya ulang. Saya tidak tahu detail cerita apa yang ia buat. Saya tidak tahu bagian favoritnya. Saya tidak tahu makna gambar itu baginya.

Saya sadar saya tidak sedang mengajarkan anak saya untuk mendengarkan. Saya sedang mengajarkan bahwa ketika orang lain berbicara, kita boleh saja tidak hadir sepenuhnya. Saya sedang menunjukkan bahwa distraksi lebih penting dari cerita seseorang. Dan saya tahu, jika hal itu menjadi pola, anak saya akan belajar bahwa mendengarkan bukanlah sesuatu yang penting.

Momen sederhana itu membuat saya sadar bahwa setiap kali saya tidak benar-benar mendengarkannya, saya sedang menghapus kesempatan untuk membangun sebuah keterampilan penting dalam dirinya: kemampuan mendengarkan dan menghargai percakapan.

Mengapa Kita Sering Merasa Anak Sulit Mendengarkan?

Di banyak rumah, orang tua sering mengeluh bahwa anak tidak merespons panggilan, tidak mengikuti instruksi, atau tampak “tidak peduli” ketika diajak bicara. Kita merasa anak keras kepala, tidak fokus, atau tidak mau mendengarkan. Padahal sering kali masalahnya justru terletak pada pengalaman mereka.

Anak akan meniru cara orang tua berkomunikasi. Jika keseharian mereka dipenuhi:

  • respons yang terburu-buru,

  • orang tua yang menatap layar ketimbang wajahnya,

  • instruksi tanpa percakapan,

  • atau tanggapan setengah hati,

maka mereka pun akan melakukan hal yang sama saat mendengarkan kita.

Anak belajar dari apa yang mereka alami, bukan dari apa yang kita minta.

Contoh-Contoh Nyata dalam Keseharian Orang Tua
1. Ketika anak bercerita, tetapi orang tua tetap menatap layar

Anak: “Aku punya cerita tentang sekolah!”
Orang tua: “Iya, Mama dengar,” tanpa mengangkat wajah.

Pada akhirnya anak berhenti bercerita karena merasa ceritanya tidak penting.

2. Anak menunjukkan karya, tetapi orang tua sedang sibuk dengan pekerjaan

Anak: “Aku bikin robot!”
Orang tua: “Nanti ya,” padahal satu menit perhatian sudah cukup membuat anak merasa dihargai.

3. Anak berbicara, tapi orang tua menyela sebelum cerita selesai

Ini mengajarkan bahwa penyampaian tidak apa-apa dipotong, sehingga anak pun meniru.

4. Instruksi selalu satu arah

Jika seorang anak terbiasa hanya menerima perintah tanpa ada kesempatan berdiskusi, ia tidak mengembangkan refleks untuk mendengarkan secara aktif.

Mengapa Didengarkan Itu Penting bagi Perkembangan Anak?

Ada alasan psikologis yang sangat kuat mengapa mendengarkan anak secara penuh itu penting:

1. Didengarkan membuat anak merasa berharga

Ketika anak merasa suaranya penting, ia mengembangkan rasa percaya diri dan keamanan emosional.

2. Anak belajar menghormati orang lain

Cara kita mendengarkan akan tercermin dalam cara mereka mendengarkan.

3. Mendengarkan membangun kemampuan komunikasi

Anak belajar kontak mata, menunggu giliran, dan memahami konteks pembicaraan.

4. Ikatan emosional orang tua–anak menjadi jauh lebih kuat

Didengarkan memberikan rasa aman, yang menjadi fondasi hubungan sehat.

5. Anak lebih mudah mengikuti instruksi jika ia merasa dihargai

Komunikasi dua arah lebih efektif daripada instruksi satu arah.

Bagaimana Orang Tua Bisa Melatih Diri Menjadi Pendengar yang Lebih Baik?
1. Tatap wajah anak ketika ia mulai berbicara

Tiga detik saja cukup untuk membuat anak merasa didengarkan.

2. Letakkan distraksi sebentar

Tidak harus lama. Yang penting, tunjukkan bahwa ia lebih penting dari layar.

3. Gunakan respons yang relevan

Seperti:
“Bagian mana yang paling kamu suka?”
“Atau apa yang terjadi setelah itu?”

4. Biarkan anak menyelesaikan ceritanya

Ini membangun kemampuan komunikasi yang sehat.

5. Sediakan waktu khusus untuk mendengarkan cerita anak

Misalnya sebelum tidur, saat makan malam, atau saat perjalanan di mobil.

Contoh-Contoh Sederhana dalam Kehidupan Nyata
Contoh 1: Waktu di mobil

Daripada sibuk dengan gadget, cobalah membuka percakapan:
“Ceritakan hal paling seru yang kamu alami hari ini.”

Contoh 2: Saat anak mengetuk pintu kerja kita

Daripada berkata “sebentar”, beri batas waktu jelas:
“Tunggu dua menit, setelah itu Mama dengarkan kamu.”

Dan tepati janji itu.

Contoh 3: Ketika anak membawa karya

Daripada hanya memuji, ajukan pertanyaan agar ia merasa dihargai sebagai pembuat karya.

Contoh 4: Saat makan malam

Biarkan anak memilih topik cerita pertama. Ini melatih keberanian berbicara.

Kesimpulan: Sebelum Meminta Anak Mendengarkan, Tanyakan Dulu, Apakah Kita Sudah Mendengarkan Mereka?

Anak belajar mendengarkan melalui apa yang mereka alami setiap hari. Jika mereka biasa didengarkan dengan penuh perhatian, mereka akan meniru pola itu. Tetapi jika mereka terbiasa diabaikan atau diberi respon setengah hati, mereka akan menganggap mendengarkan bukan hal penting.

Karena itu, sebelum berkata, “Nak, dengarkan Mama,” cobalah bertanya pada diri sendiri:

“Sudahkah saya mendengarkan dia seperti saya ingin ia mendengarkan saya?”

Mendengarkan bukan soal suara yang lebih keras. Mendengarkan adalah soal kehadiran. Dan sering kali, kualitas hubungan orang tua dan anak dibangun dari momen-momen kecil yang selama ini kita lewatkan tanpa sadar.