Pentingnya Ngajarin Anak Ngomong yang Benar
Sebenarnya si anak itu niatnya ngeluarin kata-kata yang sama persis dengan yang dia denger dari kita, cuma berhubung lidahnya masih terlalu pendek, jadi deh tercipta bahasa mereka sendiri, nah kalau kita justru ikutin bahasa mereka, sebenarnya mereka bingung sendiri, misal dalam pikiran si anak: "loh tadi saya dengan makan, kok jadi mamam, mana yang bener nih
PARENTING
Mengapa Anak Perlu Diajari Berbicara dengan Benar Sejak Dini, Bukan Mengikuti Bahasa Bayinya
Bagi sebagian besar orang tua, mendengar anak mengucapkan kata-kata lucu dengan suara khas mereka adalah momen yang menyenangkan. Banyak anak mengubah kata menjadi versi yang terdengar menggemaskan, misalnya “mamam” untuk “makan”, “num” untuk “minum”, atau “bebet” untuk “bebek”. Tidak jarang pula orang tua membalas dengan cara yang sama karena terasa lucu dan membuat interaksi jadi lebih hangat.
Namun, di balik kelucuan itu, ada aspek penting yang kerap terlewat. Bahasa yang keluar dari mulut anak bukan sekadar permainan atau kreativitas spontan. Pada dasarnya, anak sedang berusaha meniru ucapan yang benar, tetapi kemampuan alat ucapnya belum berkembang sepenuhnya. Jika orang tua membalas dengan bahasa bayi, justru yang terjadi adalah kebingungan dalam proses belajar anak.
Artikel ini membahas secara mendalam mengapa penting mengajarkan anak berbicara dengan benar sejak dini, apa dampak jika orang tua meniru bahasa bayi, dan bagaimana memberikan contoh bahasa yang tepat tanpa membuat anak merasa salah atau malu. Semua penjelasan disusun dengan bahasa yang ramah bagi orang tua dan mudah dipahami, disertai contoh situasi nyata yang sering ditemui di rumah.
Mengapa Anak Sering Salah Mengucapkan Kata: Penjelasan Perkembangan yang Perlu Orang Tua Ketahui
Sebelum membahas cara mengoreksi bahasa anak, orang tua perlu memahami terlebih dahulu mengapa anak menghasilkan ucapan yang terdengar lucu atau salah. Pada kenyataannya, bukan karena anak sengaja mengganti kata, melainkan karena sistem bahasa mereka masih berkembang.
1. Alat ucap anak belum matang
Secara fisik, lidah anak masih pendek dan belum lentur sepenuhnya. Otot-otot mulut mereka juga masih berkembang. Hal ini membuat mereka kesulitan untuk mengucapkan bunyi tertentu, terutama bunyi r, l, s, dan gabungan konsonan seperti pr, bl, tr, atau kl. Karena kesulitan tersebut, mereka mencari alternatif bunyi yang lebih mudah. Misalnya “makan” menjadi “mamam” atau “minum” menjadi “inum”.
Pada fase ini, anak tidak sedang bermain-main dengan kata, melainkan berusaha keras meniru suara yang mereka dengar.
2. Sistem fonologi belum matang
Fonologi adalah kemampuan mengenali dan mengolah bunyi dalam bahasa. Anak belum mampu menangkap dan memproduksi seluruh spektrum bunyi dengan tepat. Prosesnya berlapis: mereka mendengar kata, memahami makna, lalu mencoba meniru. Karena sistem fonologi belum matang, hasilnya terdengar berbeda.
3. Pola bahasa anak masih sederhana
Anak cenderung menggunakan pola suku kata yang paling mudah, biasanya konsonan-vokal (CV) yang diulang seperti “ma-ma”, “ba-ba”, “pa-pa”. Itulah mengapa kata yang kompleks mereka sederhanakan menjadi pola berulang seperti “mamam” atau “bubu”.
4. Anak merasa sudah mengucapkan kata yang benar
Poin ini sering tidak disadari. Dalam pikiran anak, ia sudah berusaha mengucapkan kata yang sama persis dengan yang didengar. Ketika keluarnya menjadi “mamam”, ia merasa itu adalah bentuk yang benar. Karena itu, jika orang tua membalas dengan kata yang versi bayi, anak akan menganggap bentuk tersebut sah dan benar.
Misalnya, jika anak berkata “mamam” lalu orang tua menjawab “iya, mamam”, anak berpikir itu memang bentuk yang benar dari “makan”.
Mengapa Orang Tua Tidak Dianjurkan Mengikuti Bahasa Bayi
Wajar jika orang tua tergoda mengikuti bahasa bayi. Mereka terlihat lucu dan menggemaskan. Namun, penting memahami bahwa apa yang orang tua lakukan berpengaruh besar pada bagaimana anak menyerap bahasa.
Berikut beberapa alasan mengapa meniru bahasa bayi sebaiknya dihindari.
1. Anak menjadi bingung membedakan mana bentuk kata yang benar
Bahasa adalah sistem simbol. Jika orang tua memberikan dua bentuk berbeda untuk satu makna (“makan” dan “mamam”), anak akan kesulitan menentukan bentuk mana yang harus ia jadikan patokan. Di sinilah letak kebingungan yang sering terjadi.
2. Perkembangan bahasa berjalan lebih lambat
Input yang tidak konsisten membuat otak anak membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun pemahaman yang stabil tentang bunyi dan kata.
3. Anak sulit menangkap struktur kalimat
Bahasa bayi biasanya berbentuk kata tunggal, pendek, dan tidak mengikuti struktur yang baik. Jika orang tua menirunya terlalu sering, kesempatan anak untuk mendengar kalimat lengkap berkurang.
4. Anak bisa merasa malu atau kurang percaya diri saat memasuki lingkungan sosial
Ketika anak masuk kelompok bermain atau sekolah, teman-teman sebayanya mungkin berbicara lebih jelas. Anak yang masih menggunakan bahasa bayi bisa merasa kurang percaya diri atau bahkan diejek.
5. Anak tidak memahami bagaimana memperbaiki kesalahannya
Mengikuti bahasa bayi bukan berarti mendukung anak, melainkan menghilangkan kesempatan anak untuk belajar dari input bahasa yang benar.
Bagaimana Cara Mengajarkan Bahasa yang Benar Tanpa Membuat Anak Merasa Disalahkan?
Mengoreksi bahasa anak tidak boleh dilakukan dengan cara keras atau memaksa. Proses belajar bahasa harus tetap nyaman, hangat, dan bebas tekanan. Berikut langkah-langkah yang telah terbukti efektif:
1. Jangan meniru ucapan anak; ulangi bentuk yang benar
Jika anak berkata “mamam”, orang tua cukup membalas dengan, “Iya, kita makan ya.” Ucapan orang tua akan menjadi referensi baru yang lebih akurat bagi anak.
2. Berikan respons dengan kalimat lengkap
Menggunakan kalimat lengkap membantu anak mempelajari ritme, struktur, dan intonasi bahasa. Misalnya, ketika anak berkata “inum”, orang tua dapat menjawab, “Kamu mau minum air putih, ya?”
3. Lakukan pengulangan bermakna
Pengulangan adalah strategi utama pembelajaran bahasa. Orang tua bisa mengulang bentuk kata yang benar dengan konteks berbeda, misalnya, “Ini makan siangnya. Kita makan sama-sama, ya. Setelah makan, kita minum.”
4. Sertakan gesture atau penunjuk
Anak lebih cepat memahami bahasa ketika mendengar kata sambil melihat visual atau gerakan. Saat mengatakan “makan”, misalnya, orang tua dapat menunjuk piring atau sendok.
5. Jangan mengkritik atau menertawakan
Meskipun kesalahan anak terlihat lucu, hindari menertawakannya secara berlebihan. Anak bisa merasa malu, yang justru menghambat perkembangan bahasanya.
6. Berikan lingkungan yang kaya bahasa
Membacakan buku, bercerita, atau menjelaskan kegiatan sehari-hari akan memperkayanya dengan kosakata dan pola kalimat yang benar.
Contoh Situasi Nyata di Kehidupan Sehari-hari
Untuk membantu orang tua memahami penerapannya, berikut beberapa contoh situasi yang sering terjadi di rumah.
Situasi 1: Anak meminta makan
Anak: “Mamam.”
Orang tua: “Kamu mau makan? Baik, kita makan sekarang.”
Orang tua tidak perlu berkata “mamam” kembali, karena hal itu memperkuat bentuk yang salah.
Situasi 2: Anak berkata “bebet” ketika melihat bebek
Anak: “Itu bebet!”
Orang tua: “Iya, itu bebek. Bebeknya sedang mandi.”
Membalas dengan kata yang benar memperjelas standar bahasa bagi anak.
Situasi 3: Anak berkata “num num”
Anak: “Num num…”
Orang tua: “Kamu mau minum air putih, ya?”
Dengan cara ini, anak belajar bahwa kata yang benar adalah “minum”.
Mengapa Penting Mengajarkan Bahasa yang Benar Sejak Dini
Bahasa adalah fondasi banyak aspek perkembangan. Berikut beberapa alasan mengapa input bahasa yang benar sejak kecil sangat penting.
1. Otak berkembang maksimal sebelum usia enam tahun
Tahap perkembangan otak paling pesat berada pada usia dini. Input bahasa yang konsisten dan benar pada fase ini akan membentuk dasar kemampuan bahasa di masa depan.
2. Bahasa memengaruhi kemampuan berpikir
Anak yang terbiasa mendengar kalimat jelas dan terstruktur memiliki kemampuan kognitif lebih baik. Mereka lebih mudah memahami instruksi, menyusun ide, dan memecahkan masalah.
3. Bahasa memengaruhi kemampuan sosial
Komunikasi adalah kunci interaksi sosial. Anak yang dapat menyampaikan ide dengan jelas lebih mudah bergaul dan tidak merasa minder.
4. Bahasa memengaruhi kemampuan membaca dan menulis
Kemampuan literasi awal sangat dipengaruhi oleh kemampuan bahasa lisan. Jika kemampuan berbicara kuat, kemampuan membaca dan menulis biasanya mengikuti.
5. Mengurangi frustasi dan tantrum
Sering kali anak tantrum karena merasa tidak dipahami. Ketika bahasa anak makin jelas, komunikasi menjadi lebih efektif dan konflik berkurang.
Bagaimana Jika Anak Sudah Terlanjur Terbiasa dengan Bahasa Bayi?
Tidak perlu panik. Perkembangan bahasa sangat dinamis dan fleksibel. Dengan pendekatan yang tepat, anak dapat beradaptasi dengan cepat.
Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:
Konsisten menggunakan bahasa yang benar.
Tambahkan kegiatan membaca buku bersama.
Gunakan permainan yang mengandung bunyi-bunyi tertentu.
Berikan banyak kesempatan bagi anak untuk mendengar dan berlatih.
Selalu berikan contoh, bukan kritik.
Kesimpulan
Bahasa bayi memang lucu, tetapi penting bagi orang tua untuk menyadari bahwa anak tidak sedang bermain kata. Mereka berusaha menirukan apa yang mereka dengar, tetapi alat ucap yang belum matang membuat bunyinya terdengar berbeda. Ketika orang tua mengikuti bahasa bayi, anak justru bingung membedakan mana bentuk kata yang benar.
Mengajarkan bahasa yang benar sejak dini adalah investasi jangka panjang bagi perkembangan anak. Dengan model bahasa yang tepat, struktur yang lengkap, dan respons yang konsisten, anak akan tumbuh menjadi komunikator yang percaya diri, mampu mengekspresikan diri, dan lebih mudah memahami lingkungannya.
Anak berhak mendapatkan input bahasa yang jelas, dan orang tua adalah sumber utama pembelajaran itu. Dengan cara yang hangat dan penuh kasih, orang tua dapat membantu anak melewati proses belajar bahasa dengan lebih mudah, lebih cepat, dan lebih menyenangkan.