Petualangan Bimo dan Kiki: Mengatasi Ketakutan di Kegelapan

Blog post description.

CERPEN

mr.frd

11/29/20246 min read

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh ladang hijau yang seolah tidak ada ujungnya dan hutan yang lebat seperti karpet raksasa, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Bimo. Rambutnya hitam tebal, matanya bulat penuh rasa penasaran, dan langkahnya selalu ringan seolah ia ingin berlari mengejar semua hal baru di dunia ini. Setiap pagi, sebelum matahari naik tinggi, ia membantu ibunya memetik sayuran di kebun kecil di samping rumah.

Setelah pekerjaan selesai, Bimo selalu mengambil tongkat kayunya. Tongkat itu adalah teman setianya. Baginya, itu bukan sekadar tongkat: itu adalah pedang ksatria, tongkat sihir, atau tombak pelindung desa… tergantung petualangan apa yang ia bayangkan hari itu.

Namun ada satu hal yang tidak bisa ia sembunyikan dari siapa pun: Bimo sangat takut gelap. Ketika matahari tenggelam dan desa mulai sunyi, ia selalu merasa ada sesuatu di balik bayang-bayang. Terkadang, ia merasa ada mata yang mengintip dari balik pohon. Kadang ia membayangkan tangan panjang yang muncul dari kegelapan. Karena itulah ia tidak pernah berani keluar rumah setelah senja.

Suatu hari yang cerah, Bimo duduk di bawah pohon besar di tepi hutan. Ia mengayunkan tongkatnya, pura-pura bertarung dengan musuh bayangan. Daun-daun jatuh berputar mengikuti gerakan tongkatnya. Angin semilir membuat beberapa bunga liar bergoyang pelan.

Tiba-tiba, sebuah suara kecil berbunyi tepat di atas kepalanya.

“Hai ksatria desa!”

Bimo terkejut. Ia menatap ke atas, dan melihat seekor burung kecil berbulu kuning cerah bertengger di dahan rendah. Matanya hitam dan menggemaskan.

“Kamu sedang melawan siapa? Bayanganmu sendiri?” tanya burung itu sambil tertawa kecil.

“E-ehh… siapa kamu?” tanya Bimo kaget.

“Aku Kiki!” jawab burung kecil itu ceria. “Dan ya, aku bisa bicara!”

Bimo hampir menjatuhkan tongkatnya. “Burung… bisa bicara?”

“Kenapa? Kamu tidak percaya?” Kiki mengembangkan sayap. “Aku memang tidak bicara dengan semua manusia. Hanya yang berhati baik dan penuh rasa penasaran.”

Bimo tersipu bangga. “Kalau begitu… ada apa, Kiki?”

Burung kecil itu menundukkan kepala. “Aku tersesat. Saat badai besar seminggu lalu, angin menerbangkanku sangat jauh dari sarangku. Aku tidak tahu jalan pulang. Aku ingin kembali ke keluargaku, tapi aku tidak bisa menemukan pohon rumah kami.”

Bimo memandang ke dalam hutan. Hutan itu lebat, gelap, penuh semak dan akar besar. Ia tahu, di dalam hutan ada banyak tempat yang tidak pernah ia jamah.

“Kalau kamu mau membantuku,” lanjut Kiki, “aku punya peta kecil yang kutemukan. Tapi jalannya… cukup gelap.”

Bimo menggigit bibir. “Gelap?”

“Iya… kita harus melewati gua.”

Bimo gemetar sedikit.

Saat ia hampir menolak, tiba-tiba terdengar suara berat namun ramah.

“Bimo, apa yang kamu lihat di sana?”

Itu suara Pak Danu, penjaga hutan. Tubuhnya tinggi besar, wajahnya ramah, dan ia selalu membawa keranjang berisi ramuan dan daun obat.

Bimo menoleh. “Pak… Kiki tersesat.”

Pak Danu mendekat dan tersenyum hangat pada burung kecil itu. “Halo, teman kecil.”

Kiki mengangguk sopan. “Halo, Pak Danu.”

Pak Danu kemudian menatap Bimo. “Hutan tidak seseram yang kamu kira. Banyak yang tinggal di sana, tapi kebanyakan makhluk hutan justru takut pada manusia. Kalau kamu masuk dengan niat baik, hutan akan membantumu.”

Bimo terdiam. Hatirnya berdebar. Tapi Kiki menatapnya penuh harapan.

“Aku takut gelap…” kata Bimo lirih.

“Tapi kamu tidak sendiri,” jawab Kiki lembut. “Kita bisa melangkah bersama.”

Bimo memandang tongkat kayunya. Biasanya tongkat itu ia gunakan untuk bermain, bukan untuk melindungi siapa pun. Tapi kali ini, ia merasa tongkat itu memberi keberanian kecil di hatinya.

“Baiklah… aku akan bantu kamu, Kiki.”

Kiki langsung berputar di udara girang. “Terima kasih, Bimo!”

Mereka pun berangkat.

Hutan semakin lebat ketika mereka melangkah masuk. Cahaya matahari menari-nari di lantai hutan saat tertiup angin. Burung-burung lain berkicau dari dahan tinggi. Sesekali, suara ranting patah terdengar. Bimo terlonjak sedikit, tetapi Kiki selalu berkata,

“Itu hanya tupai gemuk, santai saja!”

Setelah berjalan beberapa saat, Kiki mengeluarkan peta lusuh kecil dari bawah sayapnya.

“Menurut peta, kita harus melewati sungai kecil, lalu masuk ke gua sempit.”

Bimo mengangguk, tapi di dalam hatinya muncul rasa dingin. Ia membayangkan gelap gua seperti mulut raksasa yang siap menelan mereka.

Saat itu juga mereka tiba di sungai kecil. Airnya jernih sekali. Mereka menyeberang dengan melompati batu-batu datar yang menonjol di permukaan.

Namun di tengah sungai, Bimo terpeleset sedikit. Pluk! Batu tempat ia berdiri licin.

“Awas!” seru Kiki.

Bimo berhasil menangkap tongkatnya sebelum jatuh. Ia tertawa canggung.

“Kamu bisa menyeberang, ksatria batu licin,” ledek Kiki.

Bimo tertawa. Rasa takutnya sedikit berkurang.

Setelah menyeberangi sungai, mereka tiba di depan mulut gua kecil. Gua itu benar-benar gelap. Bahkan cahaya dari luar tidak bisa masuk jauh.

Bimo memegang tongkatnya erat-erat. “Aku tidak suka tempat ini…”

Kiki mengusap kepala Bimo dengan sayapnya. “Aku tahu. Aku pun tidak suka. Tapi keluargaku menunggu.”

Bimo mengeluarkan obor sumbu kecil dari tasnya lalu menyalakannya. Cahaya kuning hangat memenuhi bagian depan gua. Sedikit rasa aman muncul di hatinya.

Mereka masuk.

Di dalam gua, suara tetesan air terdengar tik… tik… tik… jauh di kedalaman. Dindingnya dingin, lantainya basah. Bimo melangkah pelan. Setiap bayangan membuatnya menelan ludah.

“Kita sebentar saja di sini,” kata Kiki menenangkan. “Kita hanya perlu melewati lorong ini.”

Tiba-tiba terdengar suara dari atas.

“Berhenti!”

Bimo hampir melempar obornya saking kaget. Dari langit-langit gua muncul seekor kelelawar kecil berwarna abu-abu.

“Halo…” kata Bimo pelan, takut.

“Halo juga,” jawab kelelawar itu. “Aku Lulu. Kenapa masuk gua rumahku tanpa izin?”

“Kami tidak tahu ini rumahmu…” jawab Kiki cepat. “Kami hanya ingin lewat.”

Lulu mengangguk bijak. “Aku bisa menunjukkan jalan pintas, kalau kalian mau.”

Benar saja, jalan gua itu bercabang-cabang seperti labirin.

“Tapi…” lanjut Lulu, “Aku kehilangan buah kecilku. Itu makananku. Kalau kalian menemukannya, aku akan membantu.”

Bimo mengangguk. “Aku coba cari.”

Ia menyorot lantai gua dengan obor. Ia melihat bayangan bergerak, tapi ia tetap melangkah. Rasa takutnya baru muncul, namun ia sudah belajar untuk bernapas perlahan.

Sampai akhirnya ia menemukan buah kecil berwarna ungu.

“Lulu! Ini punyamu?”

Lulu terbang melingkar-lingkar senang. “Benar! Terima kasih!”

Ia pun memimpin mereka melewati celah kecil yang tidak terlihat sebelumnya. Dan betul saja—di ujung lorong, tampak cahaya terang dari luar.

Mereka keluar dari gua. Matahari menyambut hangat. Bimo menghirup udara segar.

“Kamu hebat, Bimo,” kata Kiki.

“Padahal tadi aku mau kabur,” jawab Bimo jujur.

“Tapi kamu tidak kabur,” kata Kiki. “Itu yang penting.”

Mereka melanjutkan perjalanan.

Di tengah hutan, mereka bertemu dua rusa kecil yang sedang berdebat.

“Kami kehabisan jalan pulang!” jerit rusa pertama.

“Kakiku tersangkut akar besar tadi!” kata rusa kedua.

Bimo mendekat pelan. “Kami bisa bantu cari jalan.”

Ia melihat jejak kaki kecil di tanah. Ia mengingat pelajaran dari Pak Danu tentang membaca jejak. Setelah beberapa langkah, ia menemukan jalan setapak kecil tempat kedua rusa itu berasal.

“Kalian pulang lewat sana,” kata Bimo.

Rusa-rusa itu berterima kasih dan berlari riang.

Kiki menatap Bimo kagum. “Kamu membantu mereka tanpa pedang atau sihir.”

Bimo tersenyum malu.

Matahari mulai rendah ketika mereka akhirnya tiba di pohon terbesar di hutan. Pohon itu menjulang tinggi sampai daun-daunnya hampir menyentuh langit. Dahan pohon itu juga membentang lebar seperti tangan raksasa yang melindungi hutan.

Namun di sekeliling pohon, terdengar suara drrrzzzz… drrrzzzzz… keras sekali.

Lebah.

Puluhan lebah hutan berterbangan, menjaga sarang mereka.

“Kita tidak bisa lewat…” kata Bimo, mundur.

“Bimo…” kata Kiki lirih, “Keluargaku ada di dahan paling atas.”

Bimo menutup mata sejenak. “Baik. Aku coba bicara.”

Ia mendekat pelan. Lebah-lebah menghampiri.

“Siapa kamu?” kata lebah penjaga.

“Aku Bimo. Kami datang bukan untuk mengganggu. Temanku tersesat dan keluarganya ada di pohon ini. Kami hanya ingin mengembalikannya.”

Lebah-lebah saling berbisik. Lalu salah satu berkata, “Manusia sering menakutkan bagi kami. Tapi kamu berbicara dengan lembut. Jika kalian tidak mendekati sarang kami, kami tidak akan melarang kalian lewat.”

Kiki langsung terbang. Ia meluncur ke dahan atas. Suara riang burung-burung kecil terdengar dari kejauhan.

Keluarga Kiki mengerubungi Kiki, memeluknya dengan sayap kecil mereka. Mereka terbang mengelilingi Bimo sebagai tanda terima kasih. Ada yang mencium pipinya, ada yang bertengger sebentar di kepalanya.

“Terima kasih, Bimo,” kata ibu Kiki. “Tanpamu, Kiki mungkin tidak pernah kembali.”

Bimo merasa dadanya hangat sekali. Ada rasa bangga yang lembut, bukan seperti bangga karena menang permainan, tapi bangga karena ia melakukan sesuatu yang benar.

Hari sudah sangat sore ketika mereka kembali. Cahaya matahari berubah jingga. Bayangan pohon memanjang di tanah. Biasanya, saat langit gelap, Bimo mulai gelisah. Tapi hari ini ia berjalan lebih santai. Ia sudah menembus tempat paling gelap yang pernah ia lihat—gua hutan itu.

Ketika sampai di desa, ibunya memeluknya erat.

“Kamu ke mana saja? Ibu khawatir!”

Bimo tertawa kecil. “Maaf, Bu. Aku membantu teman yang tersesat.”

Pak Danu yang kebetulan lewat mendengar cerita lengkapnya. Ia menepuk bahu Bimo.

“Kamu sudah menemukan keberanianmu sendiri.”

Malam tiba.

Tapi malam ini rasanya berbeda. Bimo duduk di depan rumah, memandang bintang. Angin malam terasa dingin, namun tidak menusuk. Suara jangkrik terdengar dari kejauhan, tetapi tidak menakutkan. Justru membuat hati Bimo tenang.

Gelap tidak lagi terasa seperti musuh.

Gelap hanya bagian dari hari. Dan ia tidak sendirian.

“Aku bisa menghadapi malam,” kata Bimo pelan sambil tersenyum. “Aku sudah melewati gua. Aku juga bisa melewati ini.”

Dan sejak hari itu, ketakutan Bimo pada gelap berubah menjadi keberanian kecil yang selalu tumbuh setiap malam.