Si Kancil dan Jembatan Tali

Kancil yang berpura-pura tidak menginginkan pesta buah di seberang karena sebenarnya takut melewati jembatan tali. Bagaimana ia menghadapi rasa takutnya?

CERPEN

mr.frd

11/13/202510 min read

Di sebuah hutan yang hijau dan luas, pagi hari selalu terasa hangat dan menyenangkan. Matahari mengintip pelan dari balik pepohonan tinggi. Cahaya kuningnya masuk lewat celah-celah daun, jatuh di atas rumput yang masih basah oleh embun. Embun itu berkilau seperti butiran kaca kecil. Burung-burung berkicau, serangga berdengung pelan, dan angin sepoi-sepoi meniup daun sehingga terdengar suara susss… susss… yang menenangkan.

Di tengah hutan itu mengalir sebuah sungai yang jernih. Airnya bening sekali. Jika melihat ke bawah, tampak batu-batu bulat di dasar sungai dan ikan-ikan kecil yang berenang hilir mudik. Arusnya tidak terlalu deras, tapi cukup kuat untuk membawa daun-daun kering yang jatuh ke permukaan.

Sungai itu membelah hutan menjadi dua bagian. Di sisi satu, banyak hewan tinggal dan bermain. Di sisi yang lain, tumbuh banyak pohon buah yang lebat. Ada pohon mangga dengan buah besar berwarna kuning oranye. Ada pohon pisang dengan tandan pisang panjang. Ada jambu merah, pepaya oranye, dan banyak buah lain yang harum. Jika angin bertiup dari arah sana, aromanya sampai ke seberang.

Di atas sungai, ada sebuah jembatan tali. Jembatan itu terbuat dari papan-papan kayu yang diikat dengan tali-tali tebal. Jembatan itu sudah lama, sehingga warnanya kusam. Di beberapa bagian kayunya sedikit retak. Tali-tali di sampingnya mulai berlumut. Setiap kali angin lewat, jembatan itu bergoyang pelan dan mengeluarkan suara kriiiik… kriiiik….

Banyak hewan masih memakainya untuk menyeberang, tapi ada juga yang sudah enggan melintasinya karena merasa takut.

Di sisi sungai tempat para hewan tinggal, hiduplah seekor kancil kecil bernama Kiko. Tubuh Kiko ramping, kakinya lincah, dan matanya bulat bersinar. Kiko terkenal cerdik. Ia pandai mencari jalan pintas di antara akar-akar pohon, pandai bersembunyi saat bermain petak umpet, dan pandai mencari rumput yang paling muda dan enak dimakan.

Tapi ada satu hal yang membuat Kiko sangat takut: ia takut ketinggian.

Jika ia berdiri di batu yang tinggi, atau di dahan yang terlalu tinggi, lututnya langsung gemetar. Kepalanya terasa pusing. Jantungnya berdetak sangat cepat. Ia merasa seolah-olah tanah di bawahnya akan hilang, dan ia akan jatuh.

Karena itu, Kiko tidak suka jembatan tali. Hanya melihat jembatan bergoyang pelan saja sudah membuat tubuhnya lemas. Padahal, di seberang jembatan, ada begitu banyak buah yang ia sukai.

Kadang, malam-malam Kiko bermimpi sedang berada di sisi seberang. Ia bermimpi berlari di antara pohon pisang, memeluk tandan pisang yang besar, lalu duduk di bawah pohon mangga sambil menikmati buah mangga yang manis dan lembut. Dalam mimpinya, ia tertawa bahagia dan tidak takut sama sekali.

Tetapi setiap kali ia bangun, ia melihat sungai yang sama, jembatan tali yang sama, dan perasaan takut yang sama.

Untung, Kiko punya sahabat baik. Di hutan itu, ada kura-kura bernama Lilo. Lilo berjalan sangat pelan, tapi pikirannya tenang. Ia suka tersenyum. Cangkangnya kuat, dan ia bisa berenang dengan santai di sungai. Lilo tidak takut menyeberang, karena kalau jembatan rusak, ia bisa berenang. Tapi ia tahu tidak semua hewan seperti dirinya.

Lilo sering melihat Kiko duduk di tepi sungai, menatap ke arah pohon-pohon buah di seberang. Kadang Kiko menelan ludah sambil mengelus perutnya yang berbunyi. Kadang ia menarik napas panjang lalu pergi, pura-pura tidak tertarik.

Suatu pagi, ketika embun masih menempel di rerumputan, suara keras terdengar dari atas. Seekor burung beo berwarna hijau dan kuning terbang berputar-putar di langit sambil berteriak,

“Pestaaa buah! Pesta buah di seberang sungai! Semua hewan diundang! Semua hewan diundang!”

Hewan-hewan langsung keluar dari rumah mereka. Seekor rusa muda berkata, “Wah, pesta buah! Aku suka sekali mangga!”

Tupai kecil melompat-lompat di atas dahan. “Aku dengar akan ada kacang panggang dan biji-bijian! Hore!”

Kelinci putih berlari mendekat sambil berseru, “Aku mau wortel manis dan daun segar!”

Kiko yang sedang duduk di dekat semak langsung mengangkat kepala. Matanya bersinar. Pesta buah! Ia membayangkan meja panjang penuh buah berwarna-warni. Ia bisa makan mangga, pisang, pepaya, semangka, apa saja yang ia mau.

“Seru sekali kalau aku bisa ikut,” pikir Kiko.

Burung beo kembali berteriak, “Mereka menyiapkan jus buah juga! Dan permainan! Dan lagu-lagu!”

Kiko hampir saja berdiri dan ikut berlari ke arah jembatan bersama hewan lain. Tapi saat ia melihat jembatan tali itu bergoyang pelan, langkahnya berhenti. Ia memandang papan-papan kayu yang berderit, tali yang bergeser pelan, dan air sungai yang mengalir di bawahnya.

Tiba-tiba, perutnya terasa mual. Kakinya terasa berat. Pikirannya dipenuhi bayangan buruk: jembatan putus, ia terjatuh, arus sungai membawanya pergi, tidak ada yang bisa menolongnya.

“Aku… aku tidak bisa,” bisik Kiko pada dirinya sendiri.

Satu per satu hewan mulai menyeberang. Rusa berjalan pelan sambil tertawa. Kelinci meloncat-loncat cepat. Tupai berlari kecil. Burung-burung terbang saja di atas jembatan. Mereka tampak gembira.

Lilo menghampiri Kiko yang masih berdiri di dekat semak. “Kiko, ayo,” ajak Lilo dengan suara lembut. “Kita ikut pesta buah.”

Kiko menggeleng pelan. “Aku… tiba-tiba tidak lapar, Lilo. Mungkin lain kali saja.”

Padahal, perutnya berbunyi pelan, kruuuk…

Lilo memandang sahabatnya itu. Ia tahu Kiko tidak berkata jujur. Ia tahu yang sebenarnya terjadi: Kiko tidak berani menyeberang.

Kiko berbalik dan berjalan menjauh dari sungai. Ia melangkah pelan, lalu duduk di bawah pohon besar. Ia menunduk, menggores tanah dengan kaki depannya.

“Kenapa aku selalu begini?” gumam Kiko. “Aku ingin ikut… tapi selalu kalah oleh rasa takutku sendiri.”

Lilo menyusul dengan langkah pelan. Ia duduk di samping Kiko.

“Kiko,” kata Lilo pelan, “bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Kiko mengangkat kepala sedikit. “Apa?”

“Apakah kamu takut pada jembatan, atau kamu takut pada perasaan saat kamu berada di atas jembatan?”

Kiko terdiam sejenak. Lalu ia berkata, “Aku… takut jatuh. Dulu waktu aku masih kecil, aku pernah naik ke batu yang tinggi di dekat sungai. Aku ingin melihat air terjun kecil dari atas. Tapi tiba-tiba tanah di bawah kakiku bergeser. Aku tidak jatuh jauh, tapi cukup membuat batu-batu kecil runtuh di sampingku. Aku sangat kaget. Sejak itu, setiap kali aku merasa tanah di bawah kakiku tidak aman, aku panik.”

Lilo mengangguk pelan. “Jadi, kamu pernah hampir jatuh, dan sejak itu kamu takut mencoba hal yang mirip lagi.”

Kiko menghela napas. “Iya. Sepertinya satu kejadian itu menempel terus di kepalaku.”

“Kalau begitu,” kata Lilo, “bagaimana kalau kita mulai lagi, tapi pelan-pelan? Bukan langsung lewat jembatan, tapi dari tempat yang rendah dan aman. Kita belajar bersama, dan aku akan menemani.”

Kiko memandang Lilo. “Kalau aku jatuh lagi?”

“Kalau kamu jatuh,” jawab Lilo, “kita lihat apa yang bisa kita pelajari dari jatuh itu. Lalu besok kita coba lagi. Tidak apa-apa jika butuh waktu lama. Yang penting, kita tidak berhenti.”

Kiko tidak langsung menjawab. Ia berpikir. Ia merasa masih takut, tapi kata-kata Lilo seperti membuat hatinya sedikit lebih hangat.

“Apa menurutmu… aku bisa benar-benar berubah?” tanya Kiko.

“Aku percaya bisa,” kata Lilo. “Kamu tidak sendirian. Aku akan berada di dekatmu.”

Kiko menghembuskan napas pelan. “Baiklah,” katanya akhirnya. “Kita coba.”

Keesokan harinya, Lilo mengajak Kiko ke tempat yang tidak terlalu jauh dari sungai. Di sana ada sebuah batang pohon besar yang sudah tumbang. Batang itu melintang rendah di atas tanah. Jika ada hewan berjalan di atasnya dan terjatuh, mereka hanya akan jatuh ke rumput yang empuk.

“Inilah jembatan pertamamu,” kata Lilo sambil tersenyum.

Kiko menatap batang pohon itu. “Ini aman?” tanyanya.

“Sangat aman,” jawab Lilo. “Kalau kamu jatuh, kamu hanya akan jatuh ke rumput. Aku di sini. Kita bisa mulai dari pelan sekali.”

Kiko mendekat. Ia meletakkan satu kaki di atas batang. Rasanya aneh, tapi tidak terlalu menakutkan. Ia meletakkan kaki satunya. Kini ia berdiri di atas batang. Batang itu tidak bergoyang seperti jembatan. Tetap saja, jantungnya berdebar.

“Tarik napas pelan,” kata Lilo. “Lihat ke depan, jangan sering-sering melihat ke bawah.”

Kiko menarik napas, lalu melangkah satu langkah kecil. Batang itu diam saja. Ia melangkah lagi. Kali ini ia goyah sedikit, lalu cepat-cepat melompat turun.

“Aku hampir jatuh,” kata Kiko.

“Tapi kamu tidak jatuh,” jawab Lilo pelan. “Itu sudah bagus. Kita coba lagi.”

Hari itu, mereka mencoba beberapa kali. Pertama, Kiko hanya berjalan sampai tengah batang, lalu turun. Lama-lama, ia bisa berjalan sampai ujung batang. Kadang ia masih turun di tengah karena takut, tapi setiap kali mencoba lagi, langkahnya menjadi sedikit lebih berani.

Besoknya, mereka mencoba lagi. Kali ini, setelah latihan di batang pohon, Lilo mengajak Kiko naik ke batu yang agak tinggi. Tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk membuat Kiko teringat kejadian masa kecilnya.

“Kita hanya duduk dulu di sini,” kata Lilo. “Kalau kamu tidak nyaman, kita turun.”

Kiko naik dengan hati-hati. Ia duduk di atas batu, menatap sekeliling. Angin menyentuh wajahnya. Sungai terlihat kecil di kejauhan. Ia merasa jantungnya berdebar, tapi tidak sekuat dulu. Ia mencoba mengatur napas.

“Aku masih takut,” kata Kiko jujur.

“Tidak apa-apa,” jawab Lilo. “Takut bukan berarti kamu lemah. Takut hanya berarti ada sesuatu yang sangat penting bagimu. Kamu ingin tetap selamat. Kita bisa tetap maju walau takut.”

Hari berganti hari. Latihan juga berubah. Lilo mencari sebatang bambu yang tebal. Bambu itu mereka letakkan di atas dua batu rendah, sehingga bisa sedikit bergoyang jika diinjak.

“Inilah latihan jembatan bergoyang,” kata Lilo.

Begitu Kiko menaruh kaki di bambu, bambu itu bergerak sedikit. Kiko langsung mundur.

“Aku tidak bisa,” katanya.

“Kamu sudah bilang itu kemarin,” jawab Lilo lembut. “Dan kemarin kamu berhasil berjalan di atas batang pohon, padahal sebelumnya kamu juga bilang tidak bisa. Coba lagi, pelan-pelan. Kalau jatuh, lihat apa yang terjadi. Lalu kita belajar.”

Kiko menggigit bibir, lalu mencoba lagi. Ia melangkah pelan. Bambu bergoyang, tapi tidak keras. Ia sampai di tengah, lalu panik dan melompat turun.

“Aku jatuh!” seru Kiko, kaget.

Lilo segera mendekat. “Sakit?”

Kiko menggerak-gerakkan kaki. “Tidak terlalu. Rumputnya lembut.”

“Lihat?” kata Lilo. “Tadi kamu takut kalau jatuh itu mengerikan. Tapi setelah benar-benar jatuh, ternyata tidak separah bayanganmu. Sekarang kamu punya pengalaman baru. Kamu jadi tahu, jatuh di sini tidak berbahaya.”

Kiko terdiam. Ia menyadari sesuatu. “Jadi… jatuh tadi justru membuktikan kalau tidak semua jatuh itu menakutkan?”

“Betul,” kata Lilo. “Kadang, kegagalan justru membantu kita belajar. Kalau kita mau memperhatikannya baik-baik, kita bisa tahu apa yang harus diperbaiki.”

Mereka pun latihan lagi. Ada hari-hari ketika Kiko sangat bersemangat. Ada juga hari-hari ketika ia merasa lelah dan ingin menyerah. Kadang ia berkata, “Lilo, aku sudah mencoba berkali-kali, tapi masih saja takut.”

Lilo selalu menjawab dengan sabar, “Tidak apa-apa. Setiap hari kamu sedikit lebih berani. Kamu mungkin tidak sadar, tapi aku bisa melihatnya. Kamu sudah jauh berbeda dari Kiko yang dulu tidak berani menyentuh batang pohon.”

Beberapa minggu kemudian, kabar baru terdengar. Burung beo kembali berteriak di langit, “Pestaaa buah lagi! Pesta buah yang lebih besar! Semua hewan diundang!”

Hewan-hewan kembali girang. Kali ini, katanya akan ada lebih banyak buah, permainan, dan hadiah. Semua tampak bersemangat.

Kiko mendengarkan pengumuman itu dengan hati berdebar. Ia teringat latihan-latihan yang sudah ia lakukan. Ia teringat batang pohon, batu tinggi, bambu bergoyang, dan semua kegagalan kecil yang pernah ia alami.

“Kiko,” kata Lilo, “sepertinya latihan kita hampir sampai saatnya dicoba.”

“Saatnya ke jembatan?” tanya Kiko pelan.

“Kalau kamu mau,” jawab Lilo. “Kalau kamu belum mau, kita bisa lanjut latihan lagi. Tidak ada yang memaksamu.”

Kiko menatap sungai dari jauh. Ia masih takut. Tapi kini, di samping rasa takut itu, ada rasa lain. Rasa penasaran. Rasa ingin mencoba. Rasa percaya bahwa ia sudah berlatih, dan setiap jatuh kemarin bukanlah sia-sia.

Malam itu, Kiko susah tidur. Ia memandang bintang di langit, mendengarkan suara hutan yang tenang. Di dalam hatinya, ia bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku ingin terus lari dari jembatan? Atau aku mau mencoba sekali lagi, dengan semua pelajaran yang sudah kupunya?”

Akhirnya, ia berbisik pelan, “Aku masih takut. Tapi aku ingin mencoba. Kali ini, aku tidak ingin hanya duduk dan menyesal lagi.”

Keesokan paginya, hewan-hewan berkumpul di dekat sungai. Jembatan tali bergoyang pelan diterpa angin. Papan-papan kayunya berderit, tapi masih kuat. Hewan-hewan mulai menyeberang, tertawa dan mengobrol.

Kiko berdiri di tepi sungai. Lilo berada di sampingnya.

“Kamu tidak harus jadi yang pertama,” kata Lilo. “Tidak apa-apa kalau kamu jalan paling pelan. Yang penting, kamu mencoba.”

Kiko mengangguk pelan. Ia mengangkat satu kaki, meletakkannya di papan pertama jembatan. Jembatan bergerak sedikit. Jantungnya berdegup kencang. Ia hampir menarik kakinya kembali, tapi ia mengingat latihan. Ia mengingat bambu bergoyang. Ia mengingat rasa sakit kecil saat jatuh, yang ternyata tidak separah bayangannya.

“Dulu aku gagal berdiri di tempat tinggi,” pikir Kiko. “Tapi sekarang aku sudah belajar banyak hal dari kegagalan itu. Kalau aku tidak pernah mencoba lagi, aku tidak akan tahu sejauh apa aku bisa melangkah.”

Ia meletakkan kaki satunya di papan. Kini ia benar-benar berdiri di atas jembatan. Air sungai mengalir di bawahnya. Angin menyentuh wajahnya.

“Tarik napas pelan,” kata Lilo. “Seperti saat di batang pohon.”

Kiko menarik napas. Ia melangkah satu langkah. Jembatan bergoyang lagi, tapi ia tidak langsung panik. Ia fokus pada papan di depan. Ia teringat bagaimana dulu ia jatuh dari bambu, tapi bangkit lagi. Ia ingin membuktikan bahwa kali ini, ia bisa terus maju.

Selangkah demi selangkah, Kiko bergerak maju. Ia tidak berlari, tidak melompat, hanya berjalan pelan. Tengah jembatan terasa paling menegangkan. Angin sedikit lebih kencang. Jembatan bergoyang. Kiko berhenti sejenak.

“Aku takut,” katanya lirih.

“Aku tahu,” sahut Lilo. “Tapi lihat ke belakang sebentar. Kamu sudah sejauh ini. Kamu tidak lagi Kiko yang tidak berani menyentuh jembatan. Kamu Kiko yang sudah berlatih, yang pernah jatuh dan belajar, dan bangkit lagi. Kalau pun kamu gagal hari ini, kamu sudah jauh lebih maju dari kemarin.”

Kiko menoleh sedikit. Ia melihat tanah di seberang yang tadi ia pijak. Jaraknya sudah lumayan jauh. Ia menarik napas lagi.

“Baik,” katanya pada dirinya sendiri. “Kalau aku mundur sekarang, semua latihan akan berhenti di sini. Aku ingin melihat apa yang terjadi kalau aku terus melangkah.”

Ia melangkah lagi. Satu, dua, tiga langkah. Hewan-hewan di seberang mulai melihat ke arahnya.

“Itu Kiko!” seru seekor burung. “Kiko menyeberang!”

Beberapa hewan bersorak, memberi semangat. Suara mereka membuat hati Kiko terasa hangat. Ia tersenyum kecil, lalu terus melangkah. Tidak terasa, ujung jembatan semakin dekat. Bau buah-buahan dari seberang semakin terasa.

Akhirnya, kaki depannya menginjak tanah di seberang sungai. Papan terakhir jembatan ia tinggalkan di belakang. Kiko berhenti dan menatap tanah di bawahnya. Tanah yang kokoh. Tanah yang selama ini hanya ia lihat dari jauh.

“Ini… sungguhan,” kata Kiko pelan. “Aku sampai juga.”

Hewan-hewan bersorak. “Horeee! Kiko berhasil!” Monyet melompat-lompat, tupai berputar, kelinci menepuk-nepuk tanah kegirangan. Burung-burung terbang mengelilingi Kiko.

Lilo tiba di samping Kiko dan tersenyum lebar. “Aku bangga padamu,” katanya.

Kiko tersenyum, walau matanya masih berkaca-kaca. “Aku masih takut tadi,” katanya jujur.

“Tentu saja,” kata Lilo. “Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian artinya kamu tetap melangkah, meskipun kamu takut. Dan kamu sudah melakukannya.”

Pesta buah hari itu sangat meriah. Meja panjang dari batang pohon penuh dengan buah. Mangga yang manis, pisang yang lembut, pepaya yang segar, semangka yang juicy, dan banyak buah lain. Ada juga jus buah dingin dalam batok kelapa. Kiko makan perlahan sambil tersenyum. Setiap gigitan terasa istimewa, karena ia tahu, semua ini bisa ia nikmati karena ia berani mencoba lagi walau pernah gagal.

Beberapa hewan mendekat padanya. “Kiko, tadi aku lihat kamu sedikit gemetar di tengah jembatan,” kata seekor tikus kecil. “Tapi kamu tetap jalan. Itu keren!”

“Aku juga punya ketakutan,” kata kelinci. “Aku takut lubang sempit. Tapi mungkin aku juga bisa latihan pelan-pelan seperti kamu.”

Kiko tertawa kecil. “Aku juga masih takut,” katanya. “Tapi aku belajar satu hal. Dulu aku pernah hampir jatuh, dan aku berhenti mencoba. Kegagalan itu membuatku menjauh dari jembatan. Tapi setelah aku latihan, aku sadar, kalau aku mempelajari kegagalan itu dengan benar, aku bisa menjadi lebih kuat. Kalau nanti aku mencoba lagi dan gagal lagi, aku akan lihat apa yang salah, lalu memperbaikinya. Setiap gagal berarti aku belajar sesuatu yang baru.”

Sejak hari itu, Kiko sering mengingat pelajaran itu. Sesekali, jembatan tali masih bergoyang kalau angin bertiup. Kadang masih membuat hatinya deg-degan. Tapi kini, jembatan itu bukan lagi musuh. Jembatan itu seperti teman latihan, tempat ia menguji keberaniannya.

Kadang, Kiko dan Lilo datang ke jembatan hanya untuk berjalan pelan sambil mengobrol. Kadang mereka bermain permainan kecil di tengah jembatan, tentu saja dengan hati-hati. Dan setiap kali ada hewan lain yang berkata, “Aku takut,” Kiko akan tersenyum dan berkata:

“Tidak apa-apa takut. Yang penting, kita tidak berhenti belajar. Dulu satu kegagalan membuatku tidak mau mencoba lagi. Tapi sekarang aku tahu, kegagalan justru bisa menjadi alat terbaik untuk belajar. Kalau kita mempelajari kegagalan itu dengan benar, kesalahan yang sama tidak perlu terjadi lagi. Kalau kita mencoba lagi dan gagal karena hal yang berbeda, itu artinya kita semakin dekat dengan keberhasilan. Yang penting, kita terus belajar dari kegagalan itu, sampai suatu hari kita bisa mengalahkannya.”