Tekanan yang Tak Terlihat: Anak Tersakiti atau Menyakiti Tanpa Kita Sadari

Anak bisa terlihat ceria, aktif, dan seolah baik-baik saja, padahal di dalam dirinya mereka mungkin sedang membawa tekanan besar yang tidak mereka pahami. Tekanan tak terlihat ini bisa membuat mereka tersakiti… atau tanpa sengaja menyakiti orang lain. Artikel ini membahas mengapa hal itu terjadi, apa tanda-tandanya, dan bagaimana orang tua dapat mendeteksinya lebih cepat. Inilah panduan penting untuk semua orang tua yang ingin benar-benar memahami dunia emosional anak.

PARENTING

Joy Okta Friady

2/26/20244 min read

selective color photography of person portraying of being fragile
selective color photography of person portraying of being fragile
Tekanan yang Tak Terlihat: Mengapa Anak Bisa Tersakiti atau Menyakiti Tanpa Kita Sadar

Panduan Orang Tua Mendeteksi Masalah Emosional yang Bersembunyi dalam Diri Anak

Di banyak rumah, percakapan orang tua tentang anak biasanya berkisar pada hal-hal kasat mata: nilai rapor, perilaku sehari-hari, makan yang cukup, pola tidur, dan kedisiplinan. Kita menyaksikan anak bermain, tertawa, bercanda, dan sibuk dengan dunianya. Sekilas, semuanya terlihat baik-baik saja. Kita jarang menaruh curiga pada hal-hal kecil yang tidak terlihat atau tidak disebutkan anak, terutama karena mereka memang tampak normal seperti biasanya.

Namun di balik wajah ceria dan rutinitas harian, dunia batin anak jauh lebih kompleks daripada yang tampak. Mereka memproses konflik sosial, rasa takut, keinginan diterima, tekanan untuk tampil baik, perubahan hormon, dan emosi yang bahkan mereka sendiri belum bisa pahami. Pada usia-usia tertentu, anak tidak memiliki kemampuan bahasa emosional untuk mengatakan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Akibatnya, banyak yang mereka simpan sendiri—tidak tersampaikan, tidak terobservasi, tidak terungkap.

Fenomena “tekanan tak terlihat” ini menjadi salah satu alasan mengapa masalah emosional anak sering terlambat dikenali. Dari luar, anak bisa tampak bahagia dan berfungsi normal. Tetapi dari dalam, mereka bisa sedang berjuang keras. Ketika tekanan ini tidak menemukan saluran, ia dapat muncul dalam dua bentuk ekstrem: anak menjadi korban tekanan, atau anak menjadi pelaku tekanan terhadap orang lain.

Sebagai orang tua yang terus belajar memahami dunia anak, saya melihat bahwa masalah ini bukan hanya soal “menjaga anak dari bullying”, tetapi juga soal mengenali apa yang tidak mereka katakan. Anak yang tertekan bisa menjadi pemalu, menarik diri, atau ketakutan. Anak yang tertekan juga bisa melakukan sebaliknya: menjadi agresif, mendominasi, atau melakukan tindakan yang menyakiti teman—kadang tanpa ia sadari.

Untuk memahami hal ini secara utuh, mari kita mulai dari sebuah peristiwa yang mengguncang hati banyak orang tua Indonesia.

Ketika Anak Tertekan: Refleksi dari Kasus PAHOA (2025)

Beberapa waktu lalu, publik dikejutkan oleh kasus tragis di sekolah PAHOA, Gading Serpong, Tangerang. Seorang siswa SMP meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai atas sekolah. Hingga kini, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan, sehingga tidak ada kesimpulan pasti mengenai penyebab peristiwa tersebut.

Walaupun penyebab pastinya belum diketahui, tragedi ini membuka mata banyak orang tua: bahwa anak bisa membawa beban yang tidak terlihat oleh siapa pun, bahkan oleh keluarga sendiri. Kita tidak diajak untuk menilai sekolah, lingkungan, atau siapa pun. Kita hanya diajak untuk membayangkan satu hal penting:

Bagaimana jika anak kita mengalami tekanan besar, tetapi ia tidak tahu bagaimana meminta pertolongan?

Dalam beberapa kasus yang pernah saya baca atau alami, anak yang tertekan menunjukkan tanda-tanda sangat halus: perubahan tidur, sering sakit perut, lebih mudah marah, kehilangan minat pada hal-hal favorit, atau menjadi sangat diam. Ini bukan selalu tanda pasti, tetapi sinyal bahwa anak membutuhkan ruang aman untuk berbicara.

Kasus PAHOA menjadi cermin bahwa sebagai orang tua, kita perlu lebih peka melihat hal-hal kecil yang sering kita anggap “fase biasa”. Karena terkadang, sinyal itu muncul sebentar lalu hilang, dan ketika kita melewatkannya, anak kembali menutup dirinya.

Ketika Anak Menekan: Refleksi dari Kasus Anak Vincent

Di sisi lain, pada tahun yang berbeda, sebuah video viral memperlihatkan interaksi seorang anak dengan teman sekolahnya. Publik mengenal anak tersebut sebagai putra dari artis terkenal Vincent. Setelah klarifikasi keluarga, tidak semua tuduhan yang beredar terbukti benar. Namun peristiwa ini membuka diskusi penting: bahwa seorang anak yang tumbuh di keluarga baik, hangat, dan penuh perhatian sekalipun tetap bisa menunjukkan perilaku yang dianggap menekan atau mengintimidasi teman.

Ini bukan soal menyalahkan anak atau orang tua. Ini soal memahami bahwa:

Anak yang terlihat ceria dan lantang bisa saja memproyeksikan tekanan yang ia sendiri tidak mengerti.
Anak yang dominan bisa saja sedang berusaha mencari pengakuan.
Anak yang mengejek bisa saja meniru pola komunikasi yang ia lihat.
Anak yang impulsif bisa saja belum memahami batas sosial.
Anak yang menertawakan temannya bisa saja tidak sadar bahwa ia menyakiti.

Kasus ini menjadi pelajaran bahwa potensi menjadi pelaku bullying tidak hanya terjadi pada anak yang berasal dari keluarga bermasalah. Bahkan di rumah hangat, penuh kasih, dan baik-baik saja, anak tetap bisa melakukan tindakan yang melukai teman jika tidak dibimbing memahami empati dan batasan sosial.

Ini bukan tentang keluarga Vincent. Ini tentang kita semua sebagai orang tua.

Mengapa Orang Tua Sering Tidak Melihat Tekanan yang Dialami Anak?

Ada beberapa alasan mendasar:

Anak tidak punya kosakata emosional

Mereka merasa sedih, takut, atau kecewa, tetapi tidak tahu cara menjelaskannya.

Orang tua salah membaca tanda

Marah dianggap nakal. Diam dianggap penurut. Mengurung diri dianggap “fase”.

Anak takut mengecewakan

Mereka ingin terlihat kuat dan baik-baik saja di mata orang tua.

Anak terlihat baik-baik saja di sekolah

Guru hanya melihat sebagian kecil dari hidup anak.

Orang tua sibuk

Kita sayang, tetapi tidak selalu punya bandwidth emosional yang penuh.

Tidak ada yang salah dengan orang tua. Kita manusia.
Tetapi ketika kita sadar, kita bisa lebih peka.

Tanda Anak Mengalami Tekanan Tak Terlihat

Berikut gejala halus yang sering muncul:

Perubahan rutinitas
  • susah tidur atau terlalu banyak tidur

  • kehilangan nafsu makan

  • malas mandi atau bersiap

  • sering mengeluh capek

Perubahan emosi
  • mudah tersinggung

  • menangis tiba-tiba

  • tidak menunjukkan emosi

  • kesal berlebihan pada hal kecil

Perubahan sosial
  • tidak mau main dengan teman

  • menempel terus pada orang tua

  • menghindari sekolah atau kegiatan tertentu

Perubahan permainan
  • permainan menjadi kasar

  • tema permainan mengandung konflik berulang

  • bermain sendirian terus-menerus

Gejala fisik tanpa sebab jelas
  • sakit perut

  • sakit kepala

  • keringat dingin

  • kuku digigit

  • rambut dicabut

Tanda-tanda ini bukan diagnosis, tetapi sinyal bahwa anak sedang membawa sesuatu.

Cara Mengungkap Apa yang Anak Sembunyikan

Ada langkah-langkah aman yang bisa diterapkan:

Gunakan pertanyaan tidak langsung

Contoh:

  • “Apa bagian paling berat dari harimu?”

  • “Ada sesuatu yang lagi kamu pikirkan?”

  • “Kalau ada satu hal yang bisa kamu ubah di sekolah, apa itu?”

Gunakan permainan sebagai jembatan

Anak lebih jujur lewat:

  • menggambar

  • bermain peran

  • boneka

  • lego

  • storytelling

Terapkan aturan 10 menit hadir penuh

Setiap hari, hadir sepenuhnya tanpa HP.
Tidak menginterogasi.
Tidak mengoreksi.
Hanya ada mendengarkan.

Validasi sebelum memberi solusi

Contoh:

  • “Aku bisa mengerti kenapa itu bikin kamu kesal.”

  • “Pantas kamu merasa seperti itu.”
    Validasi membuka pintu kejujuran.

Cara Mencegah Anak Menjadi Pelaku Tekanan
Ajarkan empati setiap hari

Bukan hanya berkata “jangan nakal”, tetapi membahas dampak dari setiap tindakan.

Ajarkan batasan sosial

Bahwa bercanda ada batasnya.
Bahwa suara kita bisa menyakiti.
Bahwa teman juga punya perasaan.

Ajarkan cara memperbaiki hubungan

“Minta maaf” saja tidak cukup.
Ajarkan:

  • mengakui dampak

  • mendengarkan korban

  • memperbaiki perilaku

Ajarkan regulasi emosi

Anak yang tidak mampu mengelola emosi lebih mudah melukai orang.

Latih:

  • berhenti sejenak

  • tarik napas

  • menyebutkan perasaan

  • mencari solusi

Kesimpulan: Anak Tidak Selalu Bisa Minta Tolong, Maka Kita Harus Peka

Anak yang tertekan tidak selalu diam.
Anak yang menekan tidak selalu jahat.
Keduanya bisa terjadi karena dunia batin anak tidak terbaca oleh kita.

Kasus PAHOA mengingatkan kita bahwa anak bisa membawa beban tak terlihat.
Kasus anak Vincent mengingatkan kita bahwa anak bisa menjadi pelaku tanpa ia menyadari dampaknya.
Keduanya mengajarkan hal yang sama: tekanan emosional anak harus dideteksi sejak dini.

Sebagai orang tua, tugas kita bukan menjadi sempurna.
Tugas kita adalah hadir, peka, dan mau membaca apa yang anak tidak bisa katakan.

Karena sering kali, keselamatan emosional anak bergantung pada sejauh mana kita mampu melihat hal yang tidak terlihat.